Pengaruh Televisi Terhadap Perilaku Menyimpang Mahasiswa

Bab I

A. Pendahuluaan

1. Latar Belakang

Perubahan perilaku dapat berupa perubahan perilaku kearah yang lebih baik ataupun perubahan sebaliknya. Perubahan perilaku yang akan di bahas adalah perilaku yang mengarah kea rah kurang baik yaitu perilaku menyimpang. Menurut Robert M. Z Lawang, perilaku Menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam sistem social dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang. Perubahan perilaku itu dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah melalui media massa. Media massa yang dimaksud peneliti adalah televise yang merupakan media massa audio dan visual. Stasiun-stasiun televise sekarang ini sangat banyak baik di ranah local maupun nasional, dengan berbagai macam acara dan iklan yang disuguhkan. Perubahan perilaku yang mengarah kearah kurang baik atau di sebut perilaku menyimpang juga terjadi pada beberapa mahasisiwa yang menuntut di Perguruan Tinggi. Untuk itu peneliti bermaksud untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh televisi terhadap perilaku menyimpang mahasiswa ?.

2. Rumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini di bagi menjadi tiga pokok permasalahan yaitu

a. Apa sajakah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa?

b. Bagaimanakah proses perubahan perilaku menyimpang yang dipengaruhi oleh televise ?

c. Seberapa besarkah pengaruh televise terhadap perilaku menyimpang yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa?

3. Tujuan Makalah

Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui:

1. Beberapa perilaku menyimpang yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa.

2. proses perubahan perilaku menyimpang beberapa mahasiswa yang dipengaruhi oleh televisi.

3. Besarnya pengaruh televise terhadap perilaku menyimpang yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa.

4. Manfaat Makalah

a. Bagi peniliti

Penelitian ini sangan bermanfaat untuk pengembangan pemikiran dan melatih kemampuan analisa. Kemampuan dalam penulisan juga bisa lebih tajam dan bermakna. Makalah ini juga sebagai bahan untuk masukan terhadap peneliti agar lebih baik kedepannya.

b. Bagi Pembaca

Makalah ini sebagai acauan untuk melakukan pembuktian kritis yang ada didalam pemikiran. Sebagai literatur untuk pengembangan penelitian yang akan dilaksanakan. Makalah ini juga dapat sebagai bahan pemikiran dan perenungan di dalam kehidupan tentang fenomena-fenomena yang terjadi di dalam kehidupan.



B. Landasan Teori

Ada beberapa teori yang dilansirkan oleh beberapa ahli tentang perilaku menyimpang seperti berikiut ini

1. James w. Van der zanden mendefinisikan perilaku menyimpang sebagai perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi.

2. Perilaku Menyimpang adalah suatu perilaku yang diekspresikan oleh seorang atau beberapa orang anggota masyarakat secara disadari atau tidak disadari, tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku yang telah diterima oleh sebagian besar anggota masyarakat.(Sosiologi Kelas 2 SMU: Intan Pariwara, Hal 56).

3. Menurut Robert M. Z Lawang, perilaku Menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam sistem social dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.

Dalam Sosiologi dikenal adanya teori Differensial Association atau pergaulan yang berbeda oleh Edwin H. Sutherland. Ia berpendapat bahwa penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya. Melalui proses ini, seseorang mempelajari suatu budaya menyimpang.

Perilaku menyimpang juga akibat dari proses interaksi social yang terjadi. Interaksi social adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok satu dengan kelompok yang lain dengan maksud tertentu. (Sosiologi Kelas 2 SMU: Intan Pariwara, Hal 9). Proses interkasi didasari oleh emapt faktor yaitu Faktor imitasi, Sugesti, identifikasi dan simpati. Syarat terjadinya Interaksi social menurut Gillin and Gillin (Soerjono Soekanto, 1982: 58) ada dua yaitu Kontak sosial dan komunikasi.

Interaksi sosial dan sosialisasi sangat berkaitan dengan erat dan tidak dapat dipisahkan. Sosialisai adalah suatu proses di mana individu mulai menerima atau menyesuaikan diri diri dengan unsur-unsur kebudayaan (adat istiadat, perilaku, bahasa, dan kebiasaan-kebiasaan) masyarakat, yang dimulai dari lingkungan keluarga dan kemudian meluas pada masyarakat pada umumnya, lambat laun dengan keberhasilan penerimaan atau penyesuaian tersebut , maka individu akan merasa menjadi bagian dari keluarga atau kelompok. Media massa, merupakan alat sosialisai yang penting karena dapat membantu memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang norma-norma dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Media massa seperti televisi, radio, surat kabar dan lain-lain dapat memeberikan model peranan yang dapat digunakan anak sebagai bahan untuk mengenali jatidirinya. Namun dilain pihak, media massa dapat pula merubah perilaku masyarakat. Iklan-iklan yang ditayangkan media cetak dan elektronik mempunyai potensi untuk mengubah pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat dan dapat dipergunakan untuk mempengaruhi bahkan dapat merubah pendapat umum. (Sosiologi Kelas 2 SMU: Intan Pariwara, Hal 48).

Salah satu media kontak social dan komunikasi (media massa) secara tidak langsung adalah televisi. Televisi adalah salah satu media massa elektronik yang menampilkan audio dan visual yang berfungsi sebagai alat perantara komunikasi jarak jauh secara tidak langsung dan berisi acara yang telah diatur oleh manajemen stasiun televisi. ( Pengantar Jurnailtik : 21)


Bab II

A. Pembahasan

Instansi pendidikan perguruan tinggi merupakan instansi yang setiap tahun mewisuda ratusan mahasiswa yang akan terjun ke dalam masyaraka dan menjadi bagian masyarakat. Jumlah mahasiswa berjumlah sangat banyak dan setiap tahun terus bertambah. Mahasiswa tersebar di berbagai fakultas. Pengawasan terhadap mahasiswa sejumlah itu, tidak mungkin berjalan secara optimal dan efisien. celah untuk mahsiswa untuk melakukan peilaku menyimpang mudah terjadi. Perilaku menyimpang itu dapat berupa tawuran antar kampus, praktek premanisasi, penggunaan narkoba, pencurian, bahkan praktek seksual dilikungan kampus.

Televisi yang menampilkan acara-acara dan iklan bisa sangat mempengaruhi kejiwaan dan gaya hidup serta perilaku mahasiswa yang menontonnya walaupun mahasiswa adalah manusia intelek. Namum mahasiswa adalah manusia biasa yang punya kelemahan dan keinginan serta manusia yang sedang berusaha mencari jati dirinya. Pendidikan yang merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk perilaku, sering mengunakan media massa sebagai alat penyampai, penghubung, dan perantara yang dipandang sangat efektif dan efisien. Salah satu media massa atau media komunikasi dan informasi adalah televisi. Kemampuan televisi dalam mengubah dan membentuk perilaku sangat besar dan tidak diragukan lagi. Suguhan acara-acara telivisi mampu menyihir dan mampu mendoktrin jutaan manusia yang menyaksikannya. Tanpa keberadaan televise dalam kehidupan manusia, manusia selalu merasa ketinggalan segalanya, sehingga manusia memposisikan televisi sebagai kebutuhan pokok dalam kehidupan, agar dapat bertahan dalam kehidupan.

Contoh dari perilaku tawuran diakibatkan oleh tanyangan berita tentang tawuran antara fakultas a dan fakutas b yang terjadi di perguruan tinggi lain mengakibatkan atau memancing tawuran di perguruan tinggi lain pada fakultas-fakultas yang sama jenisnya. Contoh lain akibat dari iklan televisi yaitu beberapa mahasiswi yang menggunakan pakaian seksi karena melihat iklan di televisi yang menyatakan jika wanita yang menggunakan pakaian tersebut merupakan wanita yang paling cantik, mereka tidak tahu apabila menggunakan pakaian seperti yang digambarkan akan menransang tindakan pelecehan seksual terhadap dirinya. Contoh lainya adalah tayangan film yang menggambarkan kenimatan hidup bergaya mewah membuat mahasiswa bermimpi untuk merasakan hal yang sama sehingga mereka ingin menyamakan kehidupan mereka seperti film tersebut. Tanpa berusaha bisa menikmati kehidupan enak menggunakan cara-cara yang diajarkan di dalam film tersebut tanpa pemikiran kritis yang mendasarinya. Gaya hidup yang ditampilkan berupa kehidupan malam dengan minuman alakohol dan seks bebas serta penggunaan narkoba didalamnya. Ada juga sinetron atau film yang mengajarkan apabila melakukan kejahatan pasti akhirnya akan terasa biasa bahkan berakhir bahagia. Misalnya film sepasang kekasih yang melakukan hubungan layaknya suami-istri diluar pernikahan, yang kemudian wanitanya hamil sehingga mau tidak mau keluarga dari pihak wanita menikahkan pasangan asmara tanpa beban apapun dengan alasan keluarga tidak mau menanggung malu. Ini dapat menciptakan pemikiran yang mendoktrin kawula muda termasuk mahasiswa bahwa perbuatan tersebut sah-sah saja dan dapat dia atasi. Sinetron atau film yang tidak mendidik merusak pendidikan yang telah meraka terima dan mereka jalani.

Proses yang mendasari kehidupan mahasiswa adalah proses imitasi, identifikasi dan sugesti Proses imitasi adalah proses belajar seseorang dengan cara meniru orang lain baik dalam wujud sikap (attitude), penampilan (performance), tingkah laku (behavior), maupun gaya hidup (life style). Identifikasi adalah kecendrungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama denagn orang lain. Sedangkan sugesti adalah cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu, sehingga orang tersebut mau mengikuti pandangan atau pengaruh tersebut. Tindakan imitasi oleh masyarakat termasuk mahasiswa berkiblat pada acara-acara dan iklan yang disodorkan oleh stasiun-stasiun telivisi swasta. Kebutuhan akan memenuhi kepentingan membuat golongan kapitalis yang menguasai media massa melakukan tindakan sugesti terhadap masyarakat agar tujuan mereka tercapai dengan cara apapun tanpa memandang akibat dari perbuatan mereka.

Pesona kehidupan yang ditampilkan oleh acara-acara di televisi menjadi bagian kehidupan yang sangat penting. Semua contoh yang ditampilkan peneliti hanya sebagian perilaku menyimpang yang disebabkan oleh televisi dan menjadi bukti besarnya pengaruh televisi terhadap perubahan perilaku baik kearah positif maupun kearah negatif. Kebutuhan akan televisi bukan lagi termasuk kebutuhan tersier tapi merupakan kebutuha yang hampir pokok dalam kehidupan sekarang ini. Mahasiswa sebagai manusia yang sedang mencari jalan hidup dan meraih harapan demi terciptanya kehidupan yang diinginkan menjadi sebuah objek yang sangat sesuai untuk dijadikan pasar oleh pihak-pihak yang berniat kurang baik.


Bab III

Penutup

A. Kesimpulan

Peranan atau pengaruh televisi terhadap perilaku menyimpang yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa sangat besar. Televisi sebagai salah satu media massa yang sangat efektif dan efisien sebagai media sosialisai dan bentuk interaksi social yang paling besar pengaruhnya. Televisi juga nerupakan media sosialaisasi yang sempurna untuk merubah karakter, gaya hidup, tingkah laku dan opini public masyarakat. Imitasi menjadi pilihan utama bagi mahasiswa yang ingin eksis di kelompoknya. Sugesti merupakan senjata paling utama dalam acara-acara atau iklan yang di suguhkan oleh manajemen stasiu televisi.

B. Saran

Melalui kajian ini peniliti memberikan saran kepada mahasiswa untuk lebih banyak lagi mempelajari kehidupan bermasyarakat sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan selanjutnya. Saran juga ditujukan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar lebih berhati-hati dalam memberi izin tentang segala bentuk penyiaran yang dapat berdampak negatif.


Daftar Pustaka

Tim penyusun. 2003. Sosiologi Kelas 2 SMU. Klaten: Intan Pariwara

Rabeka Harsono dan Basilius Triharyanto. 2008. Jalan Berliku Menjadi Orang Indonesia. Jakarta: PT Gramedia

LPM Transformasi. 2006. Pendidikan Proyek Peradaban Yang Terbengkalai. Jakarta: Transbook.

LPM Transformasi. 2010. Dunia Palupi, kumpulan Esai Budaya Transformasi. Jakarta: Transbook.

LPM Untan. 2010. Civitas (Media Informasi Mahasiwa Universitas Tanjungpura). Pontianak : Mimbar Untan
Posting Komentar
close