Matinya Peran Organisasi Mahasiswa Dalam Dunia Kampus

Mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan, tapi sekarang mahasiwa pada umumnya adalah agen yang dirubah. Jadi apa yang terjadi pada mahasiswa sekarang khususnya di Kalimantan Barat. Hanya segelintir mahasiswa di tanah boneo bagian barat ini yang mampu menjadi agen perubahan. Paradigma yang ditanamkan didalam benak mahasiswa pada saat ini adalah mahasiswa yang menjadi aktivis merupakan mahasiswa yang berkonotasi negative. Bagaimana tidak, tim pentransfer ilmu di perguruan tinggi menganggap aktivis mahasiswa sebagai nyamuk di antara kerumunan dan terus menyebarkan dalam setiap perkuliahan bahwa menjadi aktivis mahasiswa hanya akan menghambat prestasi (Orientasi nilai) dan merupakan pemberontak yang tak tau budi.

Pada kenyataannya, mahasiswa yang menjadi aktivis, baik aktivis intern dan ekstern kampus adalah mahasiswa yang paling banyak menciptakan perubahan dan mendapatkan kesuksesan. Dalam Program Talk Show off air "Mata Najwa" menghadirkan Ketua PMI Pusat Jusuf Kalla, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Ketua KPK Abraham Samad, mereka menyatakan bahwa dulunya mereka adalah aktivis mahasiswa sebelum menjadi seperti sekarang.
Di dalam era kurikulum berbasis kompetensi (KBK) ini, memang membuat tanggungjawab aktivis mahasiswa semakin berat. Di mana pada KBK mahasiswa di tuntut lebih aktif dari sang pentransfer ilmu, dengan metode yang tidak berubah yaitu pemeberian tugas, malah lebih banyak tugas. Mereka para, mahasiswa akativis tetap menerima KBK, karena memang tujuannya kuliah untuk belajar  dan mendapatkan pengalaman. Masalah cepat atau telatnya menjadi sarjana bukan sebuah pilihan. Jadi sarjana bingung mencari pekerjaan, keadaan ini disebabkan oleh tidak tersedianya lapangan pekerjaan dan pembelajaran diperkuliahan sebelumnya sebatas TEORI saja. Jarang sekali Pentransfer ilmu memberikan contoh yang nyata. Makalah, tugas mahasiswa saja berakhir di pembakaran bahkan skripsi juga ada, seperti tidak pernah kuliah saja dan pantas juga mahasiswa sering plagiat. Bagaimana mau menciptakan kompetensi, jika tidak menghargai sebuah karya?
Nah bagaimana dengan organisasi mahasiswa? Akibat tidak pahamnya peran dan fungsi organisasi, mahasiswa di Kalimantan Barat ini, terjebak dan terkungkung dalam permainan politik kampus. Beberapa dekade ini Orma hanya berperan sebagai organisasi pengkaderan yang tidak terstruktur dan tidak mempunyai tujuan atau indicator yang jelas. Pada saat pengkaderan tidak pernah memberitahukan apa itu AD/ART, maupun Hubungan Orma dan dan pihak lain serta fungsinya seperti apa dan bagaimana prosesnya? Bahkan pengurusnya saja tidak tahu struktur organisasi, fungsi organisasi, bahkan tidak pernah membaca kembali AD/ART. Tidak tahu bagaimana hubungan antara Orma dan Pihak manajemen Kampus serta menjaga hubungannya. Tentunya Organisasi Mahasiswa dibentuk bukan untuk melawan Kampus tetapi sebagai tempat belajar berorganisasi, menimba pengetahuan, pengalaman dan sebagai Advokasi hak-hak mahasiswa pastinya.
Akibatnya Ormawa sekarang di bawah perintah manajemen kampus tidak lagi berkoordinasi dengan cara musyawarah, semua diputuskan secara sepihak dan malah mengkomando langsung Ormawa. Dan hebatnya mahasiswa yang beroganisasi hanya diam dengan keadaan tersebut (Jelasnya mahasiswa sekarang tidak mengerti). Di mana nilai demokrasi yang terus dielu-elukan?
                Ormawa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik tingkat Fakultas maupun Universitas seharusnya peka tehadap segala informasi dan fakta di lapangan. Jelas sekali bahwa fungsi BEM adalah menjamin hak-hak mahasiswa sepenuhnya dengan menjadi fasilitator dalam setiap masalah, baik masalah mahasiswa dengan mahasiswa (Horizontal), Mahasiswa dengan Orma ( Vertikal), Orma dengan Orma (Horizontal) dan Mahasiswa dengan Pihak Manajemen Kampus (Vertikal). BEM tidak berhak ikut campur dalam urusan kegiatan dan peraturan di dalam Orma seperti Himpunan Mahasiswa (Hima) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di karenakan hubungannya tidaklah mengusai atau mengkomando tetapi sebatas Koordinasi (Kerja Sama dan Fasilitator).
                Faktanya BEM hanya diam saja melihat pelanggaran hak berorganisasi dan hak-hak mahasiswa. Bungkam dan takut menjadi fasilitator apalagi dalam menyuarakan kebenaran, atau mungkin tidak peduli. Meski ada ancaman drop out, bukan alasan untuk takut, karena sebagai orang beragama harus yakin yang mengatur kehidupan adalah Tuhan Yang Maha Esa, jika kita benar, maka segalanya akan lancar dan yang khilaf pasti tersadarkan. Pihak kampus terlalu pusing memikirkan citra kampus yang akan tercorang oleh tindakan mahasiswanya sehingga lupa akan kaedah cara penyelesaian masalah dengan benar (Musyawarah Mufakat). Mengkrecoki mahasiswa dengan kebijakan sepihak hanya akan menambah buruk citra kampus itu sendiri. Maka akan terlihat bahwa pihak manajemen hanya mementingkan citra kampus dari pada mendidik mahasiswanya, maka tidak layak disebut sebagai pendidik dan hanya layak disebut Pentransfer Ilmu. Ancaman, Cacian, Makian tidak segan-segan di layangkan kepada mahasiswa yang di anggap ekstrimis. Mahasiswa akan tetap hormat jika diperlakukan secara bijaksana dan akan menerima segala keputusan serta konsekuensi jika di dalam penyelesaian masalah dengan memandang mahasiswa itu perlu perhatian dan kasih sayang.
                Citra Kampus itu Fantastik dan bermutu tidak hanya keluar dan di buktikan dari mulut orang-orang penting seperti Mentri Pendidikan atau bahkan Presiden Amerika. Justru Citra kampus sejatinya berada dihati mahasiswanya yang dikeluarkan melalui ucapan (Mouth To Mouth) yang kemudian menjadi sebuah media pencitraan ke semua orang disekitarnya. Anggapan Citra kampus itu baik oleh orang-orang penting belum tentu sama dengan mahasiswa dikampusnya, karena orang-orang tersebut tidak bernah merasakan kehidupan didalamnya dan menjadi korban penipuan yang dihalalkan.
                 Tujuan kampus itu ada adalah untuk masyarakat menjadi lebih baik bukan untuk pencitraan dan bukan untuk kepentingan lain. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah”. Setiap sarjana atau orang pernah mengenyam pendidikan tinggi akan mengenang sejarah saat berada di bangku kuliah terlepas itu kenangan baik atau kenangan buruk. Seperti pepatah lama, “manusia mati meninggalkan nama”. Selama memori manusia mengingat yang buruk tentang seseorang maka selama itu pula doa keburukan, cacian, makian akan berlaku kepada orang tersebut.

                Organisasi tidak pernah lepas dari sendi kehidupan karena organisasi itu berupa manusia itu sendiri (Biologi: Organisasi sel-sel yang mempunyai fungsi dan peran masing-masing), bangsa, suku, keluarga (Sosiologi: Kumpulan individu yang bekerjasama mencapai suatu tujuan), pekerjaan (Ekonomi: Suatu badan atau wadah yang terdiri dari beberapa manusia untuk mencapai tujuan(Profit Oriented) bersama), Negara (Organisasi yang memiliki wilayah dan masyarakat dengan tujuan kesejahteraan) dan banyak lagi. Jadi pentingnya belajar organisasi itu wajib sebagai bekal untuk kehidupan dan mencapai kebutuhan serta keinginan. Belajarlah organisasi secara tuntas baik dari segi sejarah, fungsi/peran, manfaat, proses/pengelolaan, dan tujuannya. Karena setiap segi itu masing-masing memiliki ilmu tersendiri serta bekal untuk kehidupan. Berharap agar terus membudayakan musyawarah untuk mufakat dan pengambilan keputusan serta penyelesaian masalah dengan bijaksana sebagai bangsa yang berbudaya dan bukan masyarakat Jahilliyah ! Aaamiin.
Posting Komentar
close