Cerita Tan Unggal, Raja Sambas Purbakala yang Kejam



Kisah Tan Unggal ini berkaitan dengan sejarah kerajaan sambas purbakala sebelum masuknya ajaran Islam. Kesultanan Sambas adalah penerus pemerintahan dari kerajaan-kerajaan Sambas sebelumnya. Kerajaan yang bernama "Sambas" di wilayah ini paling tidak telah berdiri dan berkembang sebelum abad ke-14 M sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Negarakertagama karyaMpu Prapanca. Pada masa itu rajanya bergelar "Nek", salah satunya bernama Nek Riuh. Setelah masa Nek Riuh, pada sekitar abad ke-15 M muncul pemerintahan raja yang bernama Tan Unggal yang terkenal sangat kejam. Karena kekejamannya ini Raja Tan Unggal kemudian dikudeta oleh rakyat dan setelah itu selama puluhan tahun rakyat di wilayah Sungai Sambas ini tidak mau mengangkat raja lagi. Pada masa kekosongan pemerintahan di wilayah Sungai Sambas inilah kemudian pada awal abad ke-16 M (1530) datang serombongan besar orang-orang dari Pulau Jawa (sekitar lebih dari 500 orang) yaitu dari kalangan Bangsawan Kerajaan Majapahityang masih beragama Hindu, yaitu keturunan dari Raja Majapahit sebelumnya yang bernama Wikramawardhana. Selanjutnya sejarah Kesultanan Sambas bisa anda baca di SINI
Kisah mengenai Tan Unggal ini bermula saat keponakan raja dan rombongannya pergi berburu ke hutan. Ketika sedang asik berburu  tiba-tiba rombongan tersebut dikejutkan dengan tangisan suara bayi. Semua rombongan berpikir” di hutan belantara seperti ini dari mana asal suara tangisan bayi tersebut” ujar keponkan raja tersebut. Kemudian ia pun  langsung memberikan perintah kepada seluruh prajurit yang ikut berburu untuk mencari dari mana suara bayi berasal.
Setelah sekian lama mencari ternyata suara bayi tersebut berasal dari rumpun bambu Petung (Dendrocalamus asper), prajurit langsung diperintah untuk menebang pohon bambu tersebut. Salah seorang prajurit langsung menebas salahsatu batang bambu yang terdengar suara tangis bayi dan prajurit lainnya menahan agar batang bambu itu tidak tumbang. Setelah putus dengan beberapa kali tebas, batang bambu itu perlahan-lahan mereka baringkan. Kemudian mereka mulai mengecek tiap ruas bambu agar tidak salah potong.
Setelah semua setuju, ruas bambu yang berada di tengah setelah bagian yang lain disingkirkan, mereka bersiap membelahnya. Dengan perasaan berdebar-debar para parjurit membelah ruas bambu terpilih tersebut, hingga keringat dingin mereka pun mengucur. Semua rombongan terkejut dan takjub saat ruas bambu terbelah,  terlihat seorang bayi mungil di dalamnya. Saat menangis kencang terlihat jelas satu buah gigi taring kecil yang aneh bentuknya di gusi bayi itu.  Masih dalam keadaan takjub, tanpa pikir panjang, keponakan raja  langsung memutuskan untuk memungut bayi itu. Kemudian rombongan itu membawa bayi yang ditemukan di dalam bambu tersebut di bawa ke Istana untuk di temukan dengan Raja Sambas.
Saat melihat rombongan tadi membawa bayi yang di temukan di hutan tadi, Raja keheranan dan tertegun sembari meminta rombongan menceritakna asal usul bayi tersebut. Setelah mendengar asal muasl bayi itu, Raja Sambas langsung mengangkat bayi itu menjadi anaknya. Ia sangat senang melihat bayi itu, karena Raja Sambas pada saat itu belum mempunyai anak. Kemudian Anak itu  ia beri nama "Tan Unggal". Makna Tan sendiri diambil dari gelar kebangsawanan Kerajaan Sambas, Ia tidak diberi gelar raden atau pangeran atau Uray karena ia bukan asli dari keturunan raja. Untuk makna dari "Unggal" digunakan karena bayi tersebut hanya memiliki gigi tunggal berbentuk taring aneh dan tunggal saat di temukan atau tidak ada bayi lain yang ditemukan di rumpun bambu, serta ia tidak mempunyai ibu yang melahirkannya.
Singkatnya Tan Unggal dibesarkan di lingkungan istana Sambas layaknya seperti anak sendiri, hingga tumbuh dewasa, berani, mempunyai ilmu kanuragan yang cuup tinggi dan dipercaya akan menggantikan posisi Raja Sambas untuk memimpin kerajaan Sambas. Ia menikahi akyat biasa menjadi istrinya dan dikaruniai dua orang anak, yaitu laki-laki yang diberi nama Bujang (nama gelar sosial laki-laki) Nadi dan perempuan  diberi nama Dare (nama gelar sosial perempuan) Nandong.
Pada saat Tan Unggal memerintah kerajaan Sambas sekitar abad ke-15 M, Ia terkenal dengan raja yang kejam karena sifatnya yang sombong, kejam dan zhalim dengan rakyatnya. Dia memimpin dengan sewenang-wenang, apa yang ia katakan dan semua keinginannya harus dilaksanakan walaupun hal tersebut dibenci oleh rakyat. Pada zamannya kerajaan Sambas tidak mudah di serang oleh kerajaan lain. Bahkan pasukan Majapahit pun tidak berani memasuki wilayah Kerajaan Sambas karena kehebatannya dan mendengar kalau ia adalah setengah siluman. 
Gelar Setengah Siluman di sandang oleh Tan Unggal akibat ia senang memakan sambal asam yang bercampur darah manusia. Ikhwal cerita ia gemar  menikmati sambal asam dengan darah manusia, saat tukang masak kerajaan menyajikan sambal asam bercampur darahnya secara tak sengaja. Saat membuat sambal dengan rasa takut yang teramat sangat, membuat jari kelingking tukang masak itu teriris lading (Pisau) hingga darahnya mengucuri sambal yang dibuatnya. Tukang masak itu tidak sempat membuat sambal baru, karena jam makan siang raja Tan Unggal telah tiba. Ia tidak mau mengambil resiko kehilangan nyawa, gara-gara terlambat menghidangkan makanan Tan Unggal yang terkenal kejam itu. Karena waktu yang sudah sangat singkat lalu si tukang masak itu langsung mengaduk darah yang menetes tadi ke dalam sambal asam. Sambal asam tersebut langsung disajikan di meja makan Tan Unggal, begitu memakan sambal tersebut Tan Unggal merasa sambal asam yang ia santap sangat enak berbeda dengan hari biasanya. Lalu Tan Unggal pun bertanya kepada si tukang masak tentang rahasia sambal di nikmatinya tadi terasa enak. Si tukang masak pun tidak berani untuk berbohong, ia menceritakan bahwa sambal asam itu sudah bercampur dengan darahnya sendiri. Semenjak kejadian itu Tan Unggal memerintahkan kepada tukang masak setiap kali membuat sambal asam dan makanan lainnya harus dicampur dengan darah manusia. Rakyatnya pun menjadi korban kegemaran Tan Unggal menyantap makanan bercampur darah saat si tukang masak tidak mampu lagi memberikan darahnya setiap kali memasak.
Kekejaman Tan Unggal bukan hanya pada rakyatnya, bahkan anaknya, Bujang Nadi dan Dare Nandong pun merasakan kekejaman Tan Unggal. Pada masa hidupnya Bujang Nadi sangat suka memelihara ayam jago dan Dare Nandong paling suka untuk menenun kain sampai-sampai dia pernah mendapatkan hadiah berupa mesin tenun yang berlapis emas, tiap hari Bujang Nadi dan Dare Nandong hanya diperbolehkan bermain berdua saja karena Tan Unggal sangat membenci mereka jika dia berteman dengan rakyat biasa. Pada suatu masa, ketika Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik barmain di taman istana dan sedang asik bercerita tentang perkawinan.  Tanpa sadar mereka di intip oleh seorang pengawal istana. Pengawal itu mendengar percakapan asyik kedua beradik itu dibalik deretan bunga tepat di belakang mereka.
Bujang Nadi : dik, jika kamu ingin mencari pasangan hidup. Pasangan hidup seperti apa yang kamu idamkan?
Dare Nandong : adik sangat mengharapakan, nanti calon suami adik mirip dangan abang, baik itu dari segi ketampanan, fisiknya, dan sikapnya harus seperti abang, pokoknya mirip sekali dengan abg. Sedangkan abang, istri seperti apa yang abang inginkan?
Bujang Nadi : abang pun sama seperti keinginan adik, abang sangat mengharapkan istri abang nantinya seperti adik cantiknya dan tentunya hati istri abang nanti juga seperti hati adik yang lembut.
Mendengar percakapan kakak adik tersebut pengawal kerajaan yang sedang mengintip tadi salah artikan, dia berpikir kakak adik tersebut saling mencintai, tanpa berpikir panjang sang pengawal kerajaan itu pun langsung melaporkan hal tersebut kepada Tan Unggal. Raja Tan Unggal sangat terkejut dan murka. Tanpa menyelidiki, bertanya ke kedua anaknya maupun melakukan sidang ia  langsung memerintahkan kepada prajuritnya untuk menangkap dan  mengubur kedua anaknya yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandong.  Kemudaian kedua kakak adik tersebut di kubur hidup-hidup beserta dengan ayam jago milik Bujang Nadi dan mesin tenun milik Dare Nandong. Mereka di Kubur di daerah perbukitan sekitar Danau Sebedang Kecamatan Tebas. Hingga sekarang masyarakat sekitar Danau Sebedang masih percaya di tempat Bujang Nadi dan Dare Nandung di kubur hidup-hidup terdengar Kokokan ayam jantan dan suara orang yang sedang menenun.
Setelah kejadian itu, Raja Tan Unggal semakin kejam dengan rakyatnya, semakin menjadi-jadi bengisnya dan terus meminta darah manusia. Rakyatnya yang tidak tahan lagi dengan sikap Tan Unggal, akhirnya melakukan perlawanan hingga Tan Unggal terbunuh. Matinya Tan Unggal, terdengar kemana-mana, daerah sambas tidak bertuan dan menjadi daerah terbuka untuk pengujung. Kabar matinya Tan Unggal terdengar hingga ke Majapahit, dan akhirnya melakukan perjalanan ke sambas dengan nama Ekspedisi Jawa I. Mungkin nama ekspedisi ini menjadi nama sebuah wilayah di Kabuten sambas yaitu JAWAI, saat rombongan Majapahit singgah di wilayah muara laut yang berujung ke sungai sambas.
Ini hanyalah cerita turun temurun, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tulisan ini  juga sebagai cara untuk menjaga tradisi dan sebagai bentuk melestarikan cerita daerah. Sebuah cerita atau legenda mungkin berwal dari sebuah sejarah yang tak tertuliskan. Tidak salah juga menghubungkan legenda ini dengan sedikit sejarah yang ada walau tidak mendekati fakta. Jangan berburuk sangka tapi anggaplah sebagai suatu usaha untuk melestarikan budaya yang ada. Salam Biak Pemangkat. Irwan Sahaja.
Sumber: 
Cerita Orang Tua
Posting Komentar
close