Budaya Menyambut Ramadhan di Kalimantan Barat


Bulan Ramadhan memang merupakan bulan yang sangat spesial bagi umat muslim di belahan bumi manapun. Puncak bulan ramadhan sekaligus tanda kemenangan umat muslim dalam menahan lapar, haus dan hawa nafsu adalah lebaran atau disebut dengan Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia yang memiliki keanekaragaman, tentu saja umat islam di negara ini menyambut bulan ramadhan dan lebaran dengan budaya islaminya masing-masing. Di sini hanya membahas bentuk penyambutan Ramadhan dan Lebaran di Provinsi Kalimantan Barat.
Kalimantan Barat terdiri dari beberapa etnis besar yaitu Melayu, Dayak dan Cina. Etnis lainnya adalah Bugis, Jawa, Batak, Sunda, dan lain-lain. Setiap etnis itu memberikan corak tersendiri dalam budaya peyambutan tersebut. Budaya-budaya itu antara lain:

1. Bedil/ Laggum/ Meriam Karbit

Menjelang bulan ramadhan diberbagai daerah Kalimantan Barat biasanya membunyikan sebuah meriam kecil yang terbuat dari bambu besar. Bambu itu  dilubangi di bagian ujungnya kemudian di isi dengan minyak tanah. Bunyinya beraneka ragam tergantung kualitas bambu atau kelihaian pengguna. Pada dasarnya harus dipanaskan terlebih dahulu agar suara yang keluar terdengar keras. Meriam bambu juga digunakan untuk membangunkan sahur dan memeriahkan lebaran. Di Kabupaten Sambas Meriam bambu ini di sebut dengan “LAGGUM” dan di Kabupaten Kapuas Hulu dinamakan dengan “BEDIL”. Namun belakangan ini di Kabupaten Sambas Laggum tidak lagi menggunakan bambu tetapi menggunakan Paralon dan bahan bakarnya menggunakan spritus. Akan tetapi di Kota Pontianak dan Kota Putusibau bulan ramadhan dan pastinya menjelang Lebaran memeriahkannya dengan meriam karbit. Meriam ini terbuat dari batang pohon besar yang dilubangi dan hampir sama seperti meriam bambu namun bahan bakarnya adalah karbit. Masyarakat kedua Kota yang terbagi oleh sungai kapuas ini, bagian kiri dan kanan saling berbalas dentuman meriam ini. Budaya ini menjadi unik dan kini mulai dipertandingkan pada saat menjelang lebaran.
Bedil/ Laggum. Foto: Antara
Laggum/ Bedil/ Meriam Bambu. Re edit by Irwan Sahaja

Meiam Karbit. Foto: Refro

2. Lampu Warna Warni

DI Kota Pontianak, beberapa komplek membuat lampu warna-warni yang digantung pada sebilah bambu yang melengkung. Bambu yang berisi lampu warna-warni itu di letakkan di depan rumah masing sehingga setiap ruas jalan sehingga membuat komplek tersebut sangat meriah. Sebenarnya hal ini sudah ada zaman dahulu, di Kabupaten Sambas sebelum ada listrik menerangi jalan dan memeriahkan ramadhan dengan lampu dari kertas minyak. Kertas minyak dirangkai sedemikian rupa kemudian di dalamnya diberi pelita hampir mirip seperti lampion. Bukan hanya itu dulu juga setiap rumah memiliki obor paling sedikit 2 buah, tapi kini budaya itu sudah hilang dan semarak ramadhan semakin lama semakin redup. Tapi yang jelas keimanan harus lebih ditingkatkan walau ramadhan terkesan tidak lagi semarak.

3. Pawai Ta’aruf

Sebuah kegiatan di Kalimantan Barat berkeliling kota menggunakan atribut islami untuk memeriahkan dan menyambut Ramadhan Karim, sambil bershalawat. Pawai ini bukan hanya di lakukan di Kalimantan Barat, namun Provinsi lain pun melaksanakan pawai ta’aruf ini. Kebiasaan ini menjadi suatu kebiasaan umum umat muslim di Indonesia.

4. Maggang

Maggang adalah budaya menyambut ramadhan yang dilakukan sehari sebulum dimulainya puasa. Masyarakat khususnya di kabupaten sambas pada saat maggang, menyembelih hewan ternak baik ayam, kambing dan sapi untuk menu sahur pertama. Tujuannya untuk membedakan hari puasa dan hari-hari biasa, dari segi menu masakan yang akan disantap bersama keluarga. Pada hari maggang, kalau anggota keluarga tidak hadir, akan terasa menyedihkan sehingga anggota keluarga yang berada jauh akan rela kembali ke keluarga besar.

5. Nasi Lemang

Nasi lemang adalah nasi dari beras ketan dan santan yang dimasak menggunakan bambu yang dibakar. Biasanya lemang diberi isi dengan abon atau udang dan lain-lain. Budaya ini masih diterapkan di wilayah Kalimantan Barat bagian hulu oleh melayu Landak, Melayu Sanggau, Melayu Sekadau, Melayu Sintang dan Melayu Kapuas Hulu.


Nah, itulah beberapa informasi mengenai penyambutan puasa dan lebaran di Kalimantan Barat. Sebenarnya masih banyak lagi, namun budaya kian terkikis sejalan dengan perubahan zaman yang begitu pesat.
Poskan Komentar