Sekilas Penjabaran Sejarah Suku Melayu Di Kalimantan Barat

Sejarah penting untuk diungkapkan untuk menghindari provokasi-provokasi dari orang-orang berkepentingan buruk. Kalimantan Barat (Kalbar) mempunyai sejarah konflik yang cukup menggemparkan dan dramatis. Hal itu disebabkan kurangnya pengetahuan dan kurangnya wawasan dalam menjalani kehidupan. Tapi sekarang masyarakat Kalbar sudah cukup belajar dari pengalaman masa lampau. Kini masyarakat Kalbar sudah mengetahui pentingnya pendidikan sehingga sebagian besar masyarakat berlomba untuk mengejar pengetahuan. Masih banyak misteri di tanah borneo yang satu ini terutama asal usul Melayu Kalbar. Kurangnya catatan sejarah membuat kabur jejak-jejak nenek moyang di tanah borneo ini. Berangkat dari ketidaktahuan dan kebingungan penulis mencoba sedikit menguraikan perjalanan Suku Melayu Kalbar ini, selanjut tinggal pemahaman dan wawasan pembaca yang memutuskannya.

Menurut Teori Antropologi, Bangsa Melayu berasal dari percampuran dua bangsa, yaitu Proto Melayu dan Deutero Melayu. Proto Melayu adalah ras Mongoloid, diperkirakan bermigrasi ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM, kemungkinan mereka berasal dari daerah : Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan. Sementara Bangsa Deutero Melayu berasal dari dataran Asia Tengah dan Selatan, yang datang ke Nusantara pada sekitar tahun 300 SM. Diperkirakan kedatangan Deutero Melayu membawa pengaruh budaya India yang kuat dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara. (Ahmad Samantho )

Ketika bangsa asing datang di negeri bernama Nusantara ini mereka menyebutnya ras melayu. Hal itu disebabkan oleh penggunaan  bahasa melayu sebagai bahasa pengantar (lingua franca) dan berbudaya melayu yaitu kain kuning, telok belanga; sarong dan rempah jenis makanannya yg sama. Secara antropologis bangsa melayu penyebarannya "hampir' diseluruh wilayah Nusantara. Istilah deutro dan potro melayu adalah dua hal yg berbeda karena tarikh kedatangan bangsa-bangsa tersebut dari Yunan (India belakang) ribuan tahun silam sebelum zaman gletser yang diperkirakan 3.500 tahun SM.

Penemuan terbaru adanya bukti orang-orang Negrito, nenek moyang bangsa Aborigin dan Melanesia pernah menghuni gua-gua di Borneo, pada 50.000 tahun yang lalu,  tidak menutup kemungkinan adanya perkawinan silang sehingga terjadi percampuran semenjak puluhan ribu tahun yang lalu

Menurut Raden Kesuma Sambas (Nama Facebook), Suku Melayu di Kalbar ini adalah campuran (asmilasi) Dayak dan Melayu. Orang Melayu datang dari Sumatera ke pulau ini sekitar abad ke-5 M hingga 7 M dan kemudian berasimilasi dengan Orang Dayak Iban di pesisir pulau ini lalu menghasilkan masyarakat baru dipesisir (pada saat itu seluruh Sungai-sungai di pulau ini di diami oleh Orang -Orang Dayak sedangkan sebelum kedatang Orang Dayak dari Kamboja, pulau ini dihuni oleh Orang Negrito yang juga berasimilasi dengan Orang Dayak di pulau ini yaitu asimilasi Melayu-Dayak itulah yang menghasil generasi pertama Suku Melayu di Kalimantan Barat yaitu Melayu Sambas (Sungai Sambas) dan Melayu Ketapang (Sungai Pawan). Saat ini percampuran terus terjadi sebagai contoh yang sekarang disebut Orang Melayu Sambas itu adalah campuran (mix asimilasi) secara nasab (garis bapak) dari Melayu, Dayak, Bugis dan Jawa (Orang Cina banyak di wilayah Sambas tetapi masih eksklusif, kalau pun ada asimilasi, jumlahnya masih tidak signifikan).

Penyebaran sub Melayu di Kalimantan Barat yang dapat dijabarkan pada pembagian berdasarkan 2 (dua) kelompok asal-usul (Purba,Juniar dkk,2011:106-108) yaitu :


1. Melayu Asli (Indegenous Malays),yaitu kelompok Melayu yang telah sangat lama bermukim di Kalimantan Barat (Melayu pribumi/Melayu setempat/Melayu asli) bahkan dimulai dari Melayu lama (Proto Melayu) berdasarkan geografis,penyebaran fisik,karakter kelompok dan dialek setempat yang digunakan.Atas dasar empat kriteria tersebut,kelompok Melayu Asli (Indegenous Malays) dapat dibagi kedalam 4 (empat) kategori dan terbagi atas sub pengelompokan yaitu:
  • Melayu Pesisir (bermukim di kawasan tepi pantai,laut,sungai, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Sambas, sub Melayu Mempawah, sub Melayu Kubu Raya dan sub Melayu Pontianak.Khusus di Kalimantan Barat,kelompok Melayu ini mayoritas tersebar dikawasan pesisir dan mereka merupakan kelompok yang telah lama bermukim didaerah ini.Bahkan secara umum masyarakat ini dikenal sebagai salah satu penduduk asli Propinsi Kalimantan Barat selain masyarakat Dayak yang lebih banyak tinggal dipedalaman di wilayah Kalimantan Barat.Sehingga kelompok Melayu ini menghasilkan karakter khas yang bersifat relatif lebih tenang dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan alam.
  • Melayu dari kawasan pedalaman dekat,terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Mempawah Hulu,sub Melayu Bengkayang,sub Melayu Landak,sub Melayu Sanggau.
  • Melayu dari kawasan pedalaman jauh,terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Tayan,sub Melayu Sekadau, sub Melayu Melawi,sub Melayu Sintang, sub Melayu Kapuas Hulu.
  • Melayu dari kawasan peralihan pada dua kawasan pedalaman, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Kayong Utara, sub Melayu Ketapang.
2. Melayu Kontemporer (Contemporary Malays) yaitu kelompok pendatang yang berasal dari berbagai kawasan Melayu diluar Kalimantan Barat diantaranya :
  • Daratan Sumatera seperti Palembang,Bengkulu,Sumatera bagian timur (Bangka Belitung,Medan dan sekitarnya,Jambi,Riau Daratan),Riau Kepulauan (Kepulauan Natuna,Tanjungpinang dan Batam sekitarnya).
  • Daratan Kalimantan seperti Kaltim,Kalsel.
  • Malaysia (Semenanjung/Malaysia Barat dan Malaysia Timur seperti Sarawak dan Sabah.
Dari beberapa penjelasan meski belum terlalu memuaskan dahaga keingintahuan, akan tetapi diharapkan dapat sedikit memberikan gambaran sejarah Melayu di Kalimantan Barat. Masih banyak lagi yang perlu dicari kebenarannya. Hal ini di akibatkan kurang pedulinya paraktisi pemerintahan akan pengetahuan untuk masyarakatnya. Diharapkan juga kedepannya pemerintah dapat mengambil suatu langkah bijaksana untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di benak masyarakat. Mungkin menerbitkan sebuah buku setelah melakukan seminar-seminar sejarah dan melakukan pecegahan penipun sejarah.
Posting Komentar
close