Cerpen: Maaf Terakhir di Akhir Tahun


2 bulan belakanan ini, ia sulit memejamkan mata di malam hari. Matanya selalu terjaga seolah tak bisa dipejamkan. Tak jarang ia paksakan untuk meminum obat tidur agar matanya terpejam, dan ia memang tertidur namun harus kembali pada mimpi yang mengharuskannya melihat gelap dan kehancuran. Dalam mimpinya ia melihat bumi dalam kepingan-kepingan darah yang sudah beku, badai yang begitu dasyat. 

Ketika itu malam begitu gelap, tanpa bulan, tanpa bintang. Yang ada hanya suara angin, begitu dingin, hingga ke tulangtulang. Tak kuasa malam itu begitu cepat, membawa Sri Wulandari ke hangatnya selimut. Saat matanya mulai tepejam, samar-samar dihadapannya tampak sosok wanita tua yang tak pernah dikenalnya, sedang asyik membelai rambutnya. Entah apa yang di ucapkan wanita tua itu, suaranya yang mulai parau akibat usia senjanya, tampak berkomat kamit dengan nada suara yang begitu pelan, namun dapat masih didengar Sri.
***

3 Maret 2008, hari itu dimulai. Sri ialah seorang wanita pendiam, yang selalu patuh kepada orang tua. Ia jarang keluar rumah, hari-harinya hanya diisi dengan belajar dan belajar. Dari kecil ia juga jarang memiliki teman. 

Orang tuanya begitu galak. “Sebagai anak wanita, kamu tidak boleh sering keluyuran, gak baik,” kata ibunya suatu hari, saat teman-temannya mengajaknya bermain. 

Sat itu umur Sri baru berinjak 10 tahun, masa anak-anak yang kurang menyenangkan. Hingga umurnya berinjak 17 tahun pun, ia masih dijaga ketat oleh orang tuanya, ia tumbuh menjadi anak yang pendiam dan kurang pergaulan. Kadang ia iri dengan temantemannya yang lain, bisa bebas, jalan-jalan ke mall, saling curhat, tapi hanya buku harian kecil yang setia setiap saat menemaninya. Ia muak dengan kehidupannya yang begitu monoton.
Hingga suatu hari, timbul ide gila dibenaknya. “bagaimana jika aku keluar rumah diam-diam pada malam hari,” pikirnya. 

Bukan hanya sebuah ide, keinginannnya begitu bulat, tenyata berbuah hasil. Saat sepulang sekolah, ia berhasil menceritakan ide gilanya dengan salah satu temannya. Temannya yang selama ini juga kesal dengan orang tua Sri menyetujui untuk membantunya. Orang tua Sri pernah marah padanya karena pernah mengenalkan Sri pada seorang cowok.

Kegilaan Sri terus berlanjut, di depan orang tuanya, ia begitu hormat dan menjadi anak yang manis, namun siapa sangka ketika malam tiba ia berubah 180 derajat. Berbulanbulan peristiwa itu berlanjut. Hingga suatu hari akhirnya Sri yang sembunyi-sembunyi lewat jendela, kepergok ayahnya. Haripun berubah menjadi hari yang paling menyeramkan. Sejak peristiwa itu, Sri dijaga ketat orang tuanya, tapi sayang anak pendiam dan hormat orang tua itu, sudah tak adea lagi, Sri menjadi anak yang pembangkang. Kemarahan orang tuanya tak dihiraukannya lagi. Bahkan tak peduli waktu, siang dan malam ia habiskan bersama teman-temannya, wanita maupun pria. Bukan hanya pembangkang, obat-obat terlarangpun sudah menjadi dunianya. Seperti hari-hari sebelumnya, Sri keluar rumah berpakaian seksi, membawa uang yang didapatnya dari laci ibunya. Ia sudah tak ingat pada dunia. Yang penting senang. Tiba-tiba kendaraan yang digunakannya mengalami kecelakaan, tepat tanggal 30 November 2008. kendaraan yang dibawanya melanggar sebuah tiang listrik dipinggir jalan. Saat itu ia masih dikuasai minuman keras. Kecelakaan itu mengantarnya pada koma, hingga beberapa minggu. 

Dalam koma ia bertemu kembali nenek tua yang ada dihadapannya beberapa bulan lalu. Nenek itu bercerita banyak, tentang kehidupan, tantang, harapan, dan tentang kematian. Nenek itu membawanya ke sesuatu tempat, disana diliatkan orang-orang yang hanya hidup untuk menyakiti orang yang telah membesarkan mereka, orang-orang yang pemabuk. Semua orang-orang yang pernah melakukan kesalahan. 

“Mereka sama seperti kamu, pembangkang sama oran tua, pemabuk,” kata nenek tua itu. 

Nenek itu bercerita panjang lebar, bagaimana tersiksanya mereka disana. Sebelum nenek itu menghilang, nenek itu memberi pilihan buat Sri. 

“Apakah kamu ingin menjadi seperti mereka? Atau kamu mau tetap hidup dan menjadi anak manis yang kureng pergaulan?”.” aku...., tolong beri aku kesempatan nek, untuk meminta maaf kepada orang tua ku dan menebus dosa-dosa-dosa ku,” jawab Sri terbata-bata. 

Tepat pukul 23.31, Sri tersadar dari komanya. Betapa keluarganya begitu senang, dan menciumnya berkalikali. Dilihat wajah ayah dan ibunya, mereka tidak marah, padahal begitu banyak kesalahan yang pernah dilakukannya kepada mereka. Tanpa pikir panjang lagi Sri yang belum begitu kuat. Langsung memeluk ibu dan ayahnya dengan erat. 

Puluhan kali kata maaf terlontar dari mulutnya. “maafkan aku ibu, ayah, aku berjanji akan menjadi anak yang baik,”. Tepat pukul 12.00, menjelang pergantian tahun, nenek tua itu datang dan membawa Sri terbang, tinggi. Hingga Sri benar-benar bermimpi. (Penulis: TINA)
Posting Komentar
close