Klasifikasi Ragam Bahasa Indonesia


Indonesia, yang terdiri atas beribu-ribu pulau, yang dihuni oleh ratusan suku bangsa dengan pola kebudayaan sendiri-sendiri, pasti melahirkan berbagai ragam bahasa yang bermacam-macam. Apalagi, bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup dan terbuka. Terbuka terhadap segala masukan, baik dari unsur bahasa asing atau daerah, baik secara kolektif atau individu. Ditambah dengan latar daerah, sosial budaya, lingkungan serta keilmuan yang berbeda dari penuturnya, maka produk bahasa yang dihasilkan pun sangat bervariasi atau beragam. Namun perlu diingat, ragam bahasa yang beraneka macam itu masih disebut bahasa Indonesia.

Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dikemukakan beberapa penggolongan ragam bahasa. Pertama, ragam menurut golongan penutur bahasa dan ragam menurut jenis pemakaian bahasa. Ragam yang ditinjau dari sudut pandangan penutur terdiri atas:
(1) ragam daerah,
(2) ragam pendidikan, dan
(3) sikap penutur.

Ragam daerah dikenal dengan nama logat atau dialek. Logat daerah kentara karena tata bunyinya. Ciri-ciri khas yang meliputi tekanan, intonasi, panjang-pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda-beda.

Ragam pendidikan dapat dibagi atas ragam bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku (ragam bahasa baku dan ragam tidak baku akan diuraikan secara khusus). Ragam bahasa menurut sikap penutur mencakup sejumlah corak bahasa Indonesia yang masing-masing pada asasnya tersedia bagi tiap-tiap pemakai bahasa. Ragam ini biasa disebut langgam atau gaya. Langgam atau gaya yang dipakai oleh penutur bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak berbicara atau terhadap pembacanya. Sikap penutur dipengaruhi antara lain oleh umur dan kedudukan yang disapa, pokok persoalan yang hendak disampaikannya, dan tujuan penyampaian informasinya. Perbedaan berbagai gaya itu tercermin dalam kosakata dan tata bahasa (Depdikbud, 1988).
Posting Komentar
close