Mimpi Atau..............


oleh : MARIA E V LAURIKA L S

Siang hari yang panas. Jalanan yang sudah padat, menjadi semakin padat lagi ketika waktunya para pegawai kantoran dan pelajar pulang setelah menunaikan tugasnya.

Di sebuah gang terpencil, di salah satu sudut kota, keramaian kota semakin menjadi-jadi. Banyak polisi berkeliaran di sekitar gang tersebut, berusaha menghalau kerumunan massa yang semakin membeludak karena ingin mengetahui peristiwa apa yang telah terjadi. Udara semakin pengap.

“Ada apa sih?” Seorang gadis menjulurkan kepalanya dari dalam bis kota. Wajahnya yang manis menyiratkan suatu keingintahuan yang besar. Matanya melirik ke arah penumpang lainnya. Sayang, hasilnya nihil.

Bibirnya mulai tersenyum ketika ada penumpang yang naik dari sekitar gang tersebut. Dengan cepat diburunya penumpang tersebut.

“Permisi Pak, ada apa ya... di gang itu? Kok rame banget?” tanyanya setelah sekian kali tergencet oleh penumpang lain.

“Yang saya dengar sih, ada mayat yang ditemukan disana. Kalau nggak salah anak cewek,.”

Gadis itu terdiam, merasa suatu firasat melintas di hatinya, firasat tentang sahabat yang amat dirinduinya.

***

Gelap...

Kugosok mataku kuat-kuat. Uhk...gelap banget! Nah... akhirnya kelihatan juga. Kukerjapkan mataku berkali-kali. Setelah berhasil melihat, aku bingung sendiri.

Ini dimana ya? Perasaan tadi aku hanya berjalan tanpa arah, tiba-tiba kok gelap kayak gini? Tunggu dulu, sepertinya aku kenal tempat ini. Kulangkahkan kakiku dengan mantap, kutolehkan kepalaku kekiri dan kanan. Tempatnya sempit, seperti sebuah gang kecil di pinggir kota.

O... yeah, aku kenal tempat ini. Hampir tiap hari aku melewatinya, yah... berkunjung ke rumah sahabatku. Lebih tepatnya mantan sahabatku.

Mantan... aku jadi teringat ketika kami bertengkar hari itu. Hanya masalah sepele memang, tapi ternyata kami bertengkar sampai sebesar ini kan? Masalah prinsip, itu alasannya.

Huh, sudahlah. Tapi... aku berada disini karena aku bimbang kan? Jujur saja, aku rindu padanya. Amat sangat rindu. Aku kangen pada suaranya, tingkah lakunya, bahkan pada nasihatnya yang menurutku amat mengganggu. Tapi kenapa kami seperti saling membenci hanya karena hal yang sepele??

Jadi disinilah aku, dalam kebimbangan yang sama sepelenya. Aku ingin sekali minta maaf padanya. Tapi... aku malu. Harga diriku terlalu tinggi.

Hiks... hiks... suara tangisan mengiringi tarikan pelan di ujung bajuku. Sontak aku menoleh ke bawah.

“Eh...,” aku tercengang. Sambil menarik bajuku, seorang anak kecil menangis, air matanya berjatuhan kemana-mana. “Lapar...,” lirih anak itu pelan, tangannya mengelus perutnya sendiri.

Dan akhirnya disinilah aku, duduk di depan sebuah mini market, sambil memandang anak tadi makan. Lumayan.... pahala walau rugi 2000. “Nama kamu siapa?”
selidikku pelan. “Mia,” sengaunya dengan mulut penuh roti. “Rumah kamu dimana?” Matanya yang bulat memandang ragu padaku, “Nggak ada,” Waduh nih anak! Aku apes benar hari ini. Boro-boro dapat uang di jalan, ini malah dapat anak di jalan! Mendingan nanti aku tinggalin aja dia di depan kantor polisi, daripada panjang cerita lagi.

“Udah, habisin dulu rotinya. Nanti aku antarin pulang,”sahutku. Anehnya, anak itu malah tertawa, “Kakak ini bagaimana sih? Aku kan udah bilang kalo nggak punya rumah,” Grrrrr, nih anak! “Orangtua kamu mana?” Anak itu mengusap mulutnya pelan, “Nggak tau,” jawabnya tenang. Huh......

“Makannya udah selesai kan? Ayo kita jalan, kita ke kantor polisi. Kita cari orangtuamu,” sahutku sambil berdiri. Anak itu menggelengkan kepalanya, “Nggak mau,” Tuh kan, masalah lagi! “Aku boleh nginap tempat kakak nggak? Satu malam aja,”

Huh....nyusahin aja. Aku sudah ingin berkata tidak. Namun melihat matanya yang besar dan jernih itu, tanpa memperdulikan bahwa aku baru saja bertemu dengannya, tidak tahu asal-usulnya, atau apapun tentang dia, aku berkata “Iya,”

Untung saja orangtuaku sedang pergi ke luar kota, jadi anak itu bisa tidur di rumahku tanpa harus diintrogasi oleh keduanya. Kusuruh anak itu mandi, kucarikan pakaian pantas untuknya.

“Siapa yang disebelah kakak itu?” sahut anak itu sambil menunjuk fotoku dan sahabatku yang ada di meja belajar. Rupanya dia sudah selesai mandi, “Sahabatku. Nih pakai!” sahutku ketus sambil menyodorkan pakaian arahnya.

“Kakak kelahi ama dia ya?” ujarnya polos. Aku menatap heran padanya, kok anak ini bisa tahu? “Nggak, cuma ada masalah sedikit, emang kenapa?”

“Dulu sebelum Ibu mati, Ayah marahan sama Ibu. Ibu lalu pergi keluar, dan satu hari itu Ibu nggak pulang ke rumah. Ayah cemas, nanya ama tetangga, nggak ada yang tau. Rupanya Ibu kena tabrak. Ayah jadi kayak orang gila, terus-terusan teriak maaf, maaf, maaf,” celotehnya panjang lebar.

Aku tertegun mendengarnya. Aku teringat aku belum pernah minta maaf sejak seminggu terakhir aku bertengkar dengannya. Aku merenungi kembali, masalah apa sih kami perdebatkan, cuma masalah sepele. Tapi kenapa sukar bagiku untuk hanya sekedar berkata, “Maaf.”?

“Udah malam,”sahutku sambil memotong celotehan anak itu. “Sana kamu tidur di kasurku.” Anak itu mematuhinya. Dia segera beranjak ke atas tempat tidur dan segera terlelap. Aku sendiri tidur di lantai kamarku dengan harapan, semoga sahabatku memaafkan aku ketika aku minta maaf keesokan harinya.

Ketika aku terbangun keesokan harinya, anak itu menghilang dari atas tempat tidurku dan tidak ada dimanapun di sudut rumahku.

***

“Nak, kamu kenapa?” Bapak itu berusaha menegur gadis yang tadi bertanya kepadanya. Gadis itu tertegun sesaat, kemudian seperti kesetrum, dia segera berteriak, “Berhenti!!”

Dengan tergesa-gesa, gadis itu langsung melangkahi tangga bis kota. Dengan berlari, dia kembali ke gang tersebut, dan di sana dia bertemu dengan sahabatnya, dan dengan luapan kegembiraan, dipeluknya sahabatnya itu. Sahabatnya langsung berteriak kaget.

“Woaa... satu minggu kita bertengkar, kau jadi makin agresif ya?” canda sahabatnya. “Jangan bercanda! Aku kira kau yang mati di dalam sana!” sahutnya garang tapi dengan wajah yang tersenyum.

“Jangan bodoh! Yang mati itu katanya mati kelaparan tau! Nggak mungkin kan baru seminggu kita tidak bicara, tiba-tiba hari ini kamu ketemu mayatku yang tragisnya mati karena kelaparan?!” Sahabatnya menjitak kepalanya. “Begini, aku minta maaf! Kemarin aku yang salah. Sorry ya?”

“Aku juga salah, terlalu memaksamu. Maaf juga ya...?” Gadis itu tersenyum sumringah.”Kita sama-sama minta maaf!” teriak mereka bersamaan, lalu tertawa terbahak-bahak sampai massa disitu menoleh pada mereka.

“Ups... kalo bukan kamu, jadi siapa dong yang ninggal?” gadis itu mengeryit “Mana aku tahu. Eh tuh, mayatnya lewat. Lihat yuk.”

Mereka berdua berjalan mendekati rombongan polisi yang mengangkat mayat itu. Tanpa sengaja, ketika akan dimasukkan ke dalam ambulans, penutup kepalanya terbuka.

Gadis tersebut keheranan melihat sahabatnya yang tiba-tiba saja pucat. “Kamu kenapa?” tanyanya. Sahabatnya hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Aku bertemu dengan anak itu tadi malam.”
Posting Komentar
close