Cerpen "Hakikat yang Terbuang"

WAJAH yang lembut bak bayi tanpa dosa. Mata sayu dengan tatapan tajam. Hidung bangir menambah kesempurnaan sosok wanita muda itu. Memiliki dua bibir tipis. Kulit sawo matang. Dengan rambut panjang hitam terurai. Tubuh kecil layaknya anak yang baru berumur 15 tahun padahal umurnya sudah 23 atau 24 tahun. Itulah perawakan wanita muda yang ku temui sore itu. Wanita itu sahabat kecilku yang telah lama hilang dari tatapan mataku, tak lebih dari 6 tahun aku kehilangan jejaknya. Entah kemana ia selama ini, lenyap tanpa kabar dan tiba-tiba muncul dengan wajah lesu bercampur penyesalan. Dari kedua bola matanya sembab, mungkin habis nangis!! 

Entahlah….,yang pasti saat ini ia benar-benar berbeda dengan sahabat ku yang dulu. Cantik, lincah, lugu, dan selalu tersenyum penuh semangat, pintar yang selalu dibuktikannya dengan juara kelas, murid teladan saat kita masih sekolah dulu, tapi yang ada dihadapan ku… seorang sahabat yang diam membisu, sesekali terdengar hela nafasnya yang teramat berat seolah ada yang menjepit hidungnya. Bak bunga yang layu…,lemah tanpa tenaga. Tiada lagi sahabat ku yang dulu….yang selalu bercerita tentang cinta..,kasih sayang, dan perdamaian. Tiada lagi canda dan tawa di wajah lembutnya, tiada lagi pemberi semangat dengan tingkah lakunya yang mencerminkan ksatria wanita seperti Mieda seorang pahlawan perempuan dari Urbides, Yunani saat dulu aku dan sahabat ku tertimpa masalah bedanya sahabat ku bukanlah seorang pahlawan.
Tapi itu dulu….sahabat ku sekarang seorang wanita yang lemah, penjual anak terfakir!!! 

Mungkin kata-kata itukasar tapi memang pantas ku lontarkan untuknya. Aku sangat membencinya…dia tak pantas jadi sahabat ku. 

Namun kata-kata itu berubah jadi tangis yang tak dapat ku bendung untuknya……
Aku masih sayang dengan sahabatku, yang ku sesalkan mengapa ia tak bisa melawan cintanya pada pria itu. Pria yang telah menghamilinya dengan kedok cinta mati. Apanya yang cinta mati!!!
Disuruh bertanggungjawab malah tidak mengakui buah benihnya bersama sahabatku. Jelas mereka sama-sama salah tapi mengapa sahabatku sendiri yang harus menanggung semua beban dosa ini.
Mungkin benar apa yang tetap diimani Aristoteles “wanita merupakan balutan kosong kehidupan”. 

Hanya dengan sebuah kata-kata manis dapat menghabisi masa hidupnya dalam kubangan penyesalan, bahkan dalam tidur penghabisan-pun dosa dan derita kan selalu merajainya dalam hitamnya tangis dan tawa. Bahkan mati takkan pernah menjemputnya dalam waktu dekat karena mati bukanlah pilihan seperti sahabat ku...
Yang paling buatku kecewa, sahabatku ternyata telah hilang akal sehingga anak yang dilahirkannya begitu saja dijual oleh keluarganya atas persetujuan sahabatku. Entah apa yang terjadi dengannya mungkin ia benar-benar sudah gila!! Mungkin tepatnya manusia tanpa akal, tanpa naluri dan tanpa perikemanusiaan. Anak adalah buah cinta, anugerah yang terindah dari sang pencipta, namun bagi sahabatku anak ialah racun kehidupan, hadiah terpahit. 

Betapa sahabatku telah benar-benar edan. Anak yang dikandungnya sembilan bulan sembilan hari ternyata terjual dengan harga Rp100.000,-.
Tapi rasanya kata terjual belum pantas tapi ter-obral dengan harga yang sangat-sangat murah. Jelas saja harga anaknya sama dengan harga seekor binatang!!!.
“Anak itu bukan kami jual, tapi sebagai ganti rugi saat kehamilan yang jauh lebih mahal dengan harga Rp 100.000,- ungkap salah satu orang tua sahabat ku tanpa ada rasa iba. Jadi kalau begitu apa beda anak yang dilahirkan itu dengan benalu, hanya numpang dan perusak saja, bedanya anak itu bisa menghasilkan uang.
Sahabat ku…maafkan aku mungkin saat ini kau emang layak untuk ku sebut produsen penghasil anak atau mungkin ada saran lain membuat perseroan terbatas dibidang pembuatan dan penjualan anak. Mengolah, lalu jadi dan akhirnya dijual. Bedanya belum mendapat izin dari dinas perindustrian dan perdagangan anak..Uch…dunia emang sudah edan. Tapi aku tahu sahabat ku memang depresi berat atas kejadian itu. Bahkan sahabatku masuk dalam hitungan 9 % dari wanita depresi sedunia akibat gagal dalam hidup, depresi itulah julukan sebagai penyakit di era teknologi ini.
Sahabat ku hanya satu dari wanita yang terbuang dalam cinta dan masa depan karena masih banyak wanita-wanita lain yang jauh lebih sempurna kehancurannya, mungkin aku, mungkin juga kalian.[Oleh: Agustina/ Mimbar Untan]
close