Pesan dan pemikiran Tan Malaka


DI antara deretan nama The Founding Fathers seperti Soekarno, M Hatta, Sjahrir, M Roem, Agus Salim, dan lain-lain, nama Tan Malaka bukanlah nama yang mencolok bagi rakyat Indonesia. Tan Malaka yang mempunyai nama lengkap Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka, termasuk tokoh yang luar biasa dan kontroversial. Tan Malaka dalam sejarah mengandung banyak misteri. Akan tetapi, justru dalam kemisteriusannya, Tan Malaka menjadi tokoh legendaris Indonesia.

Salah satu jejak utama Tan Malaka dalam seluruh kontribusinya terhadap pembentukan dan kemerdekaan Indonesia adalah karya tulis yang berjudul Madilog atau Materialisme, Dialektika dan Logika. Buku Madilog adalah karya monumental. Hal itu disebabkan di dalam buku ini, Tan Malaka merumuskan sikap dan pola pikir yang harus dipunyai oleh seluruh rakyat Indonesia.

***

TAN Malaka dilahirkan di Pandan Gadang, daerah terpencil Sumatera Barat. Dari keterpencilan daerah Pandan Gadang, Tan Malaka tumbuh dari suasana bahagia menuju kehidupan yang penuh penderitaan dan akhir hidup yang ironis. Tan Malaka justru pada akhir hidupnya tewas ditembak tentara Republik Indonesia pada tanggal 19 Februari 1949.

Dalam buku Madilog, dapat diketahui bahwa perjalanan intelektual Tan Malaka penuh liku dan kerikil tajam. Pergulatan intelektual Tan Malaka memaksanya untuk bertemu dengan banyak tokoh di berbagai tempat, seperti Belanda (tempat ia studi di Rijkskweekschool, sayang ia tidak sempat lulus), Rusia (tempat ia bergaul dengan komunisme internasional), Cina (hal 9), Filipina, Singapura (hal 10) atau banyak tempat di Indonesia sendiri.

Ketika Tan Malaka di berbagai tempat, di situ pula banyak tulisannya yang diterbitkan, seperti Soviet atau Parliament? yang terbit di perkebunan Senembah, Naar de Republik Indonesia yang terbit di Kanton tahun 1925, Massa Actie yang di Prambanan tahun 1926. Sedangkan Madilog ini ditulis di Rawajati, bilangan Kalibata tahun 1942-1943.

Madilog adalah buku terpenting Tan Malaka. Memahami Madilog berarti memahami ide dan alur-alur pemikiran Tan Malaka.

Kehadiran Madilog ini memperbanyak khasanah buku-buku yang berbau kirim (perjuangan untuk rakyat terutama kelas bawah). Di pasar setidaknya ada dua penerbit yang meredokumentasikan karya Tan Malaka tersebut, yakni Pusat Data Indikator dan Teplok Press.

Madilog terbitan Pusat Data Indikator ada tambahan sebuah komentarium singkat dari penyuntingnya berikut tulisan Tan Malaka dengan beberapa proses editing bahasa di sana-sini. Sementara itu Madilog terbitan Teplok Press yang isinya nyaris sama, disajikan sedapat mungkin dengan "gaya asli" sesuai bahasa yang ditulis Tan Malaka. Buku Madilog versi Teplok banyak mempergunakan tata dan gaya bahasa Indonesia tahun 1930-an.

Dengan terbitnya dua Madilog tersebut, pembaca bisa membandingkan sendiri kekurangan dan kelebihan masing-masing buku itu. Akan tetapi, mungkin ada sesuatu yang tersisa, seandainya muncul masalah hak cipta. Siapa yang berhak (atau pemegang) atas hak cipta Tan Malaka tersebut?

***

MADILOG mengartikulasikan seluruh semangat dan keprihatinan Tan Malaka atas Indonesia. Dapat dikatakan, sebenarnya Madilog lahir dari refleksi kritis Tan Malaka atas situasi kolonialisme dan praksis kapitalisme brutal yang diterapkan Belanda pada masyarakat Indonesia waktu itu.

Ada beberapa pokok masalah yang ditanggapi Tan Malaka dalam Madilog. Pertama, mengapa Indonesia begitu lama dijajah dan diperas habis-habisan oleh sistem kapitalisme? Masalah kedua adalah setelah itu apa yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia, bukan saja mampu mengusir penjajah tetapi jangan sampai Indonesia dijajah lagi.

Tan Malaka mengidentifikasi masalah utama bangsa Indonesia yang terkungkung penjajahan adalah masalah mentalitas dan cara pikir feodal. Tan Malaka merefleksikan keadaan bangsanya sebagai bangsa yang tidak bisa lepas dari riwayat mistisisme, feodalisme, dan sejarah perbudakan (hal. 26-37, 528-539).

Dengan kata lain, sebenarnya Tan Malaka menulis Madilog itu dalam rangka mencerdaskan bangsanya untuk perjuangan politik membebaskan diri dari penjajahan. Dalam jangka panjang, dengan peningkatan cara berpikir dan kecerdasan itu, bangsa Indonesia jangan sampai jatuh ke tangan penjajah atau suasana penjajahan kembali. Bangsa ini harus merdeka secara phisik maupun dalam cara berpikirnya.

Madilog mengajak berpikir alternatif dan aktif. Tan Malaka mengingatkan bahwa cara pikir yang ia tawarkan adalah cara pikir yang dinamis dan kritis (hal. 19). Hanya dengan cara pikir aktif, maka bangsa Indonesia akan sampai pada kesadaran rasional, kritis, filosofis, serta punya martabat tinggi. Dengan kesadaran itu, bangsa ini akan menjadi kuat dan dinamis.

Kalau kita mau merenungkan kata Madilog itu sendiri maka sebetulnya setiap kata mempunyai makna yang berbeda tetapi bersinergi membangun mentalitas rasional. Pertama, materialisme Tan Malaka berbeda dengan pengertian materialisme marxis. Materialisme Tan Malaka adalah kemampuan pola pikir yang realistis dan pragmatis menanggapi semua realitas yang dihadapi (hal. 141-148).

Kedua, dialektika-menurut Tan Malaka-adalah proses kelanjutan yang harus dilakukan pada manusia yang sudah mempunyai pola pikir yang realistis dan pragmatis. Proses pikir dialektika adalah proses pikir dinamis yang harus dipunyai manusia. Dialektika membutuhkan proses tesis-antitesis-sintesis pada setiap pemikiran. Pemikiran selalu mengembangkan diri justru dalam setiap perlawanan pemikiran yang diberikan (hal. 123-141).

Ketiga, Tan Malaka melihat bahwa poin pragmatisme dan dialektika pemikiran harus dimodali dengan logika sebagai jalan penentuan tepat-tidaknya cara berpikir (hal. 130-135, 196-261).

Meski Madilog sarat dengan pengetahuan ilmiah dan analisis kritis terhadap masyarakat Indonesia, Tan Malaka tetap mencatat spiritualitas dasar kebangsaan, yaitu keragaman masyarakat Indonesia. Justru dalam keragaman agama, suku, golongan, Indonesia menampakkan kekayaan kebangsaan (hal. 339-469).

Kita juga perlu mengkritisi pandangan Ketuhanan dan agama yang ditawarkan oleh Tan Malaka. Amat terasa bahwa dalam buku itu Tan Malaka menghindari sebutan Tuhan sebagai Causa Prima (hal. 26-37). Dalam hal ini, Tan Malaka ternyata tak bisa menemukan "Causa Prima".

***

TAN Malaka dalam Madilog menjadi guru bangsa. Meski ia adalah guru bangsa yang sendirian. Ide dan perjuangan politiknya yang begitu cemerlang membawa dia pada kesendirian. Gagasan, pemikiran, dan perjuangannya itu jauh dari populis, susah dipahami oleh masyarakat pada waktu itu.

Akan tetapi, justru dalam kesendiriannya itulah ia bisa menuliskan pemikiran-pemikirannya, walau belum sempat menerbitkannya. Tan Malaka berhasil memotret "titik lemah" mentalitas bangsa dan ketidakberdayaan masyarakat terhadap kapitalisme. Dia juga sekaligus menyediakan sarana dan alat efektif untuk bertahan dan survive dalam sistem kapitalisme global sepanjang waktu.

Pesan dan pemikiran Tan Malaka tetap bergema sampai sekarang. Madilog mengajak agar rasionalitas dan daya kritis dijadikan dasar bertindak, agar jangan sampai bangsa ini terjebak dalam arus emosi dan sentimen mudah berubah menjadi tindakan yang anarkis.

(AG Eka Wenats Wuryanta, alumnus STF Driyarkara, pemerhati masalah kebudayaan dan sosial, tinggal di Jakarta)
Poskan Komentar
close