Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan salah satu kegiatan manusia yang mendasar. Kegiatan komunikasi ini ditujukan untuk menjalin hubungan sesama menurut fungsinya sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup seorang diri. Dalam berinteraksi dengan sesama individu memerlukan simbol- simbol, lambang, isyarat dan bahasa yang telah disepakati dan dipahami bersama sehingga komuikasi dapat berjalan lancar tanpa ada kesalahan komunikasi (miscommunication). Komunikasi berperan penting dalam aspek kehidupan makhluk hidup, dengan berkomunikasi individu dapat saling mengungkapkan perasaannya, menyatakan pikiran, dan keinginannya serta memberikan informasi untuk mencari solusi dalam mempertahankan kelagsungan hidupnya. Perilaku dalam berkomunikasi didasari oleh faktor kebutuhan, faktor dorongan, dan faktor tujuan. 

Perilaku berkomunikasi setiap individu memiliki kebutuhan, dorongan, dan tujuan yang berbeda- beda. Perbedaan ini dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas seseorang dalam interaksinya dengan orang lain. Namun tidak semua orang dapat melakukan proses komunikasi secara baik dan benar tanpa kendala seperti yang mereka inginkan. 

Menurut Onong dalam bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi dan Praktek (2000: 18), setiap komponen yang terdapat dalam komunikasi yaitu: sender,encoding, message, media, decoding, receiver, response, feedback, dan noise memegang peranan penting dalam kelancaran proses komunikasi. Dimana satu sama lain memiliki kerkaitan dan ketergantungan yang mana apabila salah satu komponen tersebut diabaikan akan menimulkan ketimpangan dalam jalannya komunikasi. 

Apabila seseorang salah komunikasinya (miscommunication), maka orang yang dijadikan sasaran komunikasi akan mengalami salah persepsi (misperseption). Keadaan ini dapat mengakibatkan salah pegertian/ salah paham (misunderstanding). Sebagai contoh misalnya seseorang (sebagai komunikator) menyampaikan informasi, jika tidak terjadi kesamaan makna antara komunikator dengan komunikan dengan kata lain komunikan tidak megerti pesan yang disampaikan oleh komunikator maka itu dinamakan komunikasi tidak terjadi. Dengan kata lain situasi seperti itu menjadi tidak komunikatif. 

Menurut Onong dalam bukunya “Dinamika Komunikasi” (2004: 3-5) membagi pengertian komunikasi secara umum dan secara paradigmatis, secara umum komunikasi dapat dilihat dari dua segi yaitu : komunikasi secara etimologis dan komunikasi secara terminologis. Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa latin commicatio yang bersumber pada kata communis yang berarti sama, dalam arti kata sama makna yaitu sama makna dalam suatu hal. Komunikasi berlangsung apabila antara orang- orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan, dengan kata lain komunikasi berlangsung apabila seseorang mengerti tentang sesuatu yang dikomunikasikan. Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaikan suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Komunikasi secara paradigmatik mengandung tujuan tertentu, ada yang dilakukan secara lisan, tatap muka, atau melalui media, baik media massa seperti surat kabar, radio, televisi, atau film maupun media non massa misalnya surat, telepon, papan pengumuman, poster, spanduk, dan sebagainya. 

Menurut Schram dalam Onong “Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi” (1993: 30-31), field of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor penting dalam terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama dengan pengalaman komunikan maka komunikasi akan berlangsung dengan lancar. Demikian sebaliknya, jika pengalaman komunikan tidak sama dengan komunikator maka akan timbul kesukaran untuk saling mengerti satu sama lain dan situasi menjadi tidak komunikatif. Bidang pengalaman ini antara lain didapat dari tingkat pendidikan seseorang dan lingkungan sosial dimana ia berinteraksi. Dua hal tersebut akan mempengaruhi tingkat penguasaan bahasa dan kemampuan dalam menangkap dan menginterprestasikan suatu pesan secara baik dan benar. 

Proses komunikasi dapat ditinjau dalam dua perspektif yaitu perspektif psikologis dan perspektif mekanistis. Proses komunikasi dalam perspektif psikologis terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika komunikator berniat menyampaikan suatu pesan kepada komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses. Sedangkan pesan yang dikomunikasikan itu sendiri terdiri dari dua aspek yaitu isi pesan dan lambang. Isi pesan pada umumnya adalah pikiran, sedangkan lambing pada umumnya berupa bahasa. Bahasa tersebut penting sebagai lambing karena tanpa bahasa, pikiran yang dituangkan dalam bentuk pesan tidak dapat dikomunikasikan. Oleh karena itu bahasa melekat pada pikiran sehingga bahasa tidak mungkin dilepaskan dari pikiran, intinya orang berfikir dengan bahasa.

Proses komunikasi dalam perspektif mekanistis berlangsung ketika komunikator melemparkan pesan sampai ditangkap pesan itu oleh komunikan. Penangkapan pesan oleh komunikan dari komunikator ini dapat dilakukan melalui indera telinga atau indera mata ataupun dengan indera lainnya. Indera telinga misalnya, dengan mendengarkan secara langsung maupun melalui media lain seperti radio, telepon dan sebagainya. Indera mata misalnya, dengan membaca mimik muka, gerak anggota tubuh secara langsung, maupun membaca dalam bentuk lambing- lambing tertentu seperti tulisan dalam surat kabar, majalah dan sebagainya.

Sumber:

Effendy, Onong Uchjana, 2000, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Rosdakarya: Bandung.
Posting Komentar
close