Ekonomi Pembangunan: Tingkat Perkembangan Ekonomi Negara


Ujian Mid Semester 
Ekonomi Pembangunan 
Dosen: Drs. Parijo, M.Si


Oleh: Irwan Kurniawan 
F01107090 

Program Pendidikan Ekonomi 
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial 
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 
Universitas Tanjungpura 
Pontianak 
2012




1. Menurut masa Neo-Klasik pada umumnya suatu Negara mengalami 5 tingkat perkembangan ekonomi. Menurut saudara saat ini Indonesia berada pada posisi yang mana ? Jelaskan!
A. Teori Neo Klasik Untuk 5 Tingkat Perkembangan Ekonomi Negara
Menurut Neo Klasik (Robert Solow dan Travor Swan:tahun 1950 an), tingkatan perkembangan ekonomi yang dialami suatu negara melalui beberapa tahap :
  1. Mula-mula negara meminjam capital dan disebut sebagai debitur yang belum mapan 
  2. Setelah dapat menghasilkan dengan capital pinjaman tersebut, negara itu membayar deviden dan bunga atas pinjaman yang dilakukan. Pada tingkat ini belum dibayar pokok pinjaman capital 
  3. Setelah penghasilan meningkat terus, sebagian penghasilan digunakan untuk melunasi hutang dan sebagian dipinjamkan ke negara lain yang membutuhkan.. Negara berada dalam tingkat debitur yang sudah mapan ( mature debitor). 
  4. Negara dapat menerima bunga dan deviden lebih besar daripada yang dibayar, jadi ada surplus. Dengan kata lain hutangnya semakin sedikit dan piutangnya semakin besar. Negara tersebut sampai pada tingkatan kreditur yang belum mapan ( immature creditor) 
  5. Negara terus menerus menerima deviden dan bunga dari negara lain. Negara sampai pada tingkat kreditur yang sudah mapan ( mature creditor). (Diunduh tanggal 5 Novermber 2012 di: http://resum.wordpress.com/2010/12/24/teori-teori-pembangunan/). 
B. Keadaan Perekonomian Indonesia Saat Ini yang Berkaitan Dengan Utang Pemerintah 

      Total utang Pemerintah Indonesia per Mei 2012 mencapai Rp 1.944,14 triliun, . Seperti disampaikan Direktur Strategi Portopolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Schneider Siahaan, utang tersebut terdiri dari pinjaman luar negeri Rp 638 triliun, pinjaman dalam negeri sebesar Rp 1 triliun, dan sisanya surat berharga negara (SBN). ( Diunduh tanggal 13 November 2012 di http://finance.detik.com/read/2012/11/05/134940/2081699/4/indonesia-tak-mungkin-terbebas-dari-jeratan-utan ). 
        Dari total kumulasi utang luar negeri pemerintah yang mencapai Rp636,68 triliun, sebanyak Rp57 triliun akan jatuh tempo pada 2013. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu, dalam periode 2007-2012, outstanding utang luar negeri pemerintah terus meningkat. Pada 2007 nominalnya mencapai Rp586,36 triliun, selanjutnya pada 2012 nilainya meningkat Rp50,32 triliun menjadi Rp636,68 triliun. Jumlah itu merupakan bagian dari total utang pemerintah yang hingga akhir September nominalnya mencapai Rp1.976 triliun atau 23,13% terhadap PDB. Pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo itu dianggarkan dalam pos cicilan pokok utang luar negeri APBN 2013 yang pagunya mencapai Rp58,40 triliun. Sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah berniat membatasi sumber pendanaan pembangunan dari pinjaman luar negeri. Arahan tersebut ditindaklanjuti Sekretaris Kabinet Dipo Alam dengan mengirimkan Surat Edaran No.SE–592/Seskab/XI/2012 tentang Pembatasan Pinjaman Luar Negeri yang Membebani APBN/APBD. (Diunduh tanggal 13 November 2012 di http://www.bisnis.com/articles/utang-luar-negeri-indonesia-jatuh-tempo-rp57-triliun-di-2013). 

C. Posisi Perekonomian Indonesia Dalam Tingkatan Perkembangan Perekonomian Dalam Teori Neo Klasik 

        Menurut pandangan saya, berdasarkan data diatas total utang pemerintah akhir September 2012 sebesar Rp1.976 triliun atau 23,13% terhadap PDB dan kemampuan Negara dalam membayar utang yang dialokasikan dalam anggaran pos cicilan pokok utang luar negeri APBN 2013 sebesar Rp58,40 triliun, menandakan bahwa Indonesia termasuk ke dalam tingkat perkembangan perekonomian yang kedua dalam teori Neo Klasik yaitu suatu negara yang dapat menghasilkan pendapatan melalui capital pinjaman sebelumnya dan negara hanya berkemampuan membayar deviden dan bunga atas pinjaman serta belum mampu membayar pokok pinjaman capital.
        Indonesia belum termasuk ke tingkatan perkembangan ekonomi negara yang ketiga menurut pandangan Neo Klasik karena bantuan-bantuan untuk negara lain oleh pemerintah Indonesia hanya berupa bantuan kemanuasian terhadap negara yang terkena bencana sebagai bentuk kepedulian dan balas budi terhadap bantuan-bantuan ke Indonesia saat terkena bencana. Perihal bantuan Indonesia untuk The International Monetary Fund (IMF) disebabkan Indonesia sudah termasuk dalam kelompok 20 negara terhormat sejagat secara ekonomi, yakni G-20 (Syarat lepasnya Indonesia dari tingkatan negara pertama dalam teori Neo Klasik). Alasan kedua, cadangan devisa yang dipinjamkan tidak serta-merta dialihkan kepada IMF. Itu hanya dialirkan jika krisis ekonomi, sebagai bantuan untuk negara-negara eropa yang kini masih dilanda krisis ekonomi.

2. Jelasakan kritikan dari Karl Mark terhadap perkembangan ekonomi kapitalis-liberalis dan bagaimana hubungannya dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini ?


A. Kritikan Karl Marx Terhadap Sistem Kapitalis-Leberalis

Kritikan Karl Marx terhadap sistem kapitalis-leberalis

disusun dalam bukunya yang berjudul Das Kapital (Capital, dalam terjemahan bahasa Inggris, atau Modal) adalah suatu pembahasan yang mendalam tentang ekonomi politik yang ditulis oleh Karl Marx dalam bahasa Jerman. Buku ini merupakan suatu analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi dan juga, dalam bagian tertentu, merupakan kritik terhadap teori-teori terkait lainnya. Jilid pertamanya diterbitkan pada 1867 dan berjumlah 3 jilid.
        Menurut Marx “kapitalisme adalah sebuah sistem yang hidup dari penghisapan”, di dalam kekuatan pendorong utama kapitalisme terdapat dalam eksploitasi dan diskriminasi tenaga kerja. Sumber utama dari keuntungan baru dan nilai tambahnya adalah bahwa majikan membayar buruh-buruhnya untuk kapasitas kerja mereka menurut nilai pasar, namun nilai komoditi yang dihasilkan oleh para buruh itu melampaui nilai pasar. Para majikan berhak memiliki nilai keluaran (output) yang baru karena mereka memiliki alat-alat produksi (kapital) yang produktif. Dengan menghasilkan keluaran sebagai modal bagi majikan, para buruh terus-menerus mereproduksikan kondisi kapitalisme melalui pekerjaan mereka. Kapitalisme adalah sebuah sistem, diamana di dalamnya ada komponen penyusunnya; ada orang-orang yang bekerja untuk mendapatkan upah dan ada orang-orang yang mengupah mereka yang berkerja itu. Marx menunjukkan pula bahwa ada beberapa unsur penting lain yang membentuk kapitalisme, yakni; 

Kerja
         Marx begitu lugas menjelaskan hipotetiknya bahwa tidak akan ada nilai barang tanpa melalui kerja. Dengan kata lain, hanya dengan kerjalah suatu bahan, barang atau komiditi itu bernilai tambah. Contohnya, gunung yang lapisan tanahnya mengandung emas dan perak, tidak bernilai apa pun sebelum digali. ”Nilai” yang dikandungnya hanyalah nilai di atas kertas. Di dalam kapitalisme, emas dianggap sebagai nilai tukar yang begitu berharga, karena kapitalisme mendasarkan ’nilai’ pada pertukaran dan bukan dari kegunaan.

Komoditi dan Nilainya
        Marx biasa menyebut produk yang khusus dibuat untuk dipertukarkan sebagai ’komoditi’. Marx kemudian berkesimpulan bahwa “nilai adalah jumlah kerja yang dikenakan atas satu benda dari proses yang paling hulu sampai ke-tangan mereka yang akan menggunakannya”, ( diunduh pada tanggal 13 November 2101 di http://kampusmaya.org/2010/01/07/kritik-karl-marx-terhadap-ekonomi-kapitalisme/). Yang menjadi kritik Marx adalah kapitalisme berjalan begitu sangat menghisap, merampas nilai kerja para pekerja, namun penghisapan tersebut seolah terlihat wajar dengan adanya upah.

Upah Serta Hak Milik Pribadi
        Menurut Marx , jika feodalisme ’membebaskan’ rakyat pekerja dari perbudakkan maka kapitalisme membebaskan mereka dari perhambaan. Di bawah kapitalisme seluruh rakyat pekerja menjadi ’bebas’: mereka bebas bekerja di mana saja, tapi juga sekaligus di-bebas-kan dari segala bentuk kepemilikan atas faktor-faktor, alat-alat produksi. Pada feodalisme, ketika para pekerja menjadi hamba mereka masih memliki sendiri hak kepemilikan alat produksi yang mereka gunakan untuk bekerja pada tuan feodal. Kini, di bawah kapitalisme mereka lebih terpuruk, alat-alat produksi itu justru dirampas pula oleh tuan kapital.
        Dikarenakan sistem kapitalis mendasarkan diri pada proses pertukaran (adanya alat dan standar nilai tukar), adanya embel-embel hukum permintaan dan penawaran, penjualan dan pembelian, maka rakyat pekerja itu yang tidak memiliki apapa-apa lagi, mereka diharuskan menjual tenaga mereka pada mereka yang memegang kepemilikan atas alat produksi, pabrik, industri. Lalu, berapa mereka jual kemampuan-kerja mereka itu? Tentu sesuai dengan nilainya, yaitu berapa yang dibutuhkan untuk membuat mereka mampu bekerja. Jika mereka menjual kemampuan untuk berkerja delapan jam sehari, maka nilai kemampuan kerja tersebut ialah berapa yang dibutuhkan untuk membuat mereka bekerja selama delapan jam sehari. Di sinilah salah satu kritik Marx, bahwa rakyat pekerja mesti diberi upah sesuai kemampuan kerja mereka.

B. Hubungan Kritikan Karl Marx terhadap Kapitalis - Liberalis dengan perekonomian Indonseia saat ini

Hubungan Kritikan Karl Marx terhadap Kapiltalisme di Indonesia menurut saya dapat dilihat dari adannya KOPERASI yang datur dalam pasal 33 ayat 1 dan dikenal dengan sokoguru perkonomian. Yang kedua dilihat dari  upah minimum regional (UMR) yang berlaku di Indonesia saat ini. Penetapan UMR masih dibawah rata-rata kebutuhan masyarakat akan kualitas hidup. Dengan nilai UMR yang ditetapkan setelah dibagi dengan kebutuhan wajib masih sangat kurang ditambah jaminan social yang kurang serta masih banyaknya pelanggaran oleh pihak perusahaan (Kapitalis) yang berhubungan dengan upah buruh atau pekerja. Rentetan aksi buruh untuk meningkatkan kualitas hidup dengan memperjuangkan naiknya standar UMR terus dilakukan yang dimotori oleh lembaga persatuan buruh.

Aksi buruh (bentuk paham Karl Marx yang di anut kaum buruh di Indonesia ) saat ini membuat perusahaan mengancam akan memecat buruh yang terlibat dan mengancam negara untuk memindahkan segala asset dan investasi perusahaan ke negara lain. Sistem Indonesia yang menganut Ekonomi demokrasi memaksa pemerintah untuk bersikap adil. Agar pertumbuhan ekonomi selalu naik, pemerintah harus mampu menahan para investor untuk tetap menanamkan investasinya di Indonesia, dilain pihak pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan rakyat terutama golongan bawah seperti buruh. Kesan pemerintah yang tidak tegas memberikan persepsi negatif bahwa pemerintah tidak lagi demokratis melainkan sebuah pemerintahan yang dikontrol oleh investor (Kapitalis).

Diberikannya peluang secara besar-besaran untuk investor (Kebijakan Untuk Sistem Liberal yang dianut Indonesia) masuk ke Indonesia sedikit demi sedikit cabang-cabang produksi yang dimiliki oleh negara (Pasal 33 UUD 1945) mulai digerogoti untuk kepentingan kaum borjuis atau kepentingan penguasa yang tidak memihak rakyat. Sistem Ekonomi Demokrasi Pancasila atau Ekonomi Kerakyatan yang merupakan ekonomi campuran SOSIALIS-LIBERAL-PANCASILA, mulai digerogoti secara perlahan oleh sistem kapitalis. Peningkatan produktivitas melalui sector industri dengan sistem ekspansi wilayah maupun unit produksi tidak melihat akibat yang akan ditimbulkan seperti kebijakan kenaikan UMR, Jamina Sosial, Sarana dan Prasarana, Kerusakan Lingkungan, Celah Korupsi perampasan hak tanah dan lain sebagainya. Kekuatan pemerintah (Sistem Sosialis melalui UU) terhadap investor melemah akibat perjanjian kerjasama dan kebutuhan akan peningkatan alokasi dana di dalam RPJM dan RKP Nasional serta kepentingan untuk menutup hutang luar negeri.
http://kampusmaya.org/2010/01/07/kritik-karl-marx-terhadap-ekonomi-kapitalisme/
http://id.wikipedia.org/wiki/Das_Kapital


3. Kaitannya dengan kondisi perekonomian global saat ini menurut ramalan saudara bagaimana perkembangan Indonesia pada 10 tahun yang akan datang ?


Kondisi global menghadapi tekanan yang berat karena krisis keuangan Eropa yang berawal dari defisit anggaran pemerintah yang semakin besar di negara-negara kawasan Eropa terutama negara-negara lapisan pertama yaitu Yunani, Irlandia, dan Portugal. Di luar negara-negara Eropa, krisis global dan penurunan peringkat utang Amerika Serikat telah memicu gejolak finansial global antara lain dengan turunnya indeks bursa saham di banyak negara yang memberi dampak besar pada sektor riil terutama perdagangan berdasarkan hubungan bilateral, ekspor dan impor.

Krisis global tidak berpengaruh besar terhadap jalur perdagangan langsung (direct trade) antara Indonesia dengan Eropa maupun dengan Amerika Serikat. Namun akan terpengaruh melalui China dan India. China yang merupakan importer terbesar barang Indonesia diperkirakan akan mengurangi impornya disebabkan permintaan negara-negara maju menurun terhadap barang China. Sehingga kedalaman krisis ekonomi dan krisis keuangan Eropa yang menjadi krisis global dikhawatirkan akan memberi dampak negatif yang besar terhadap perekonomian Indonesia.
       Mengutip dari Kompas (halaman 9, Rubrik Ekonomi:7/10/2012), “ Ekonom Universitas Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko, menilai scenario pertumbuhan ekonomi tahun 2013 sebesar 6,8 persen bakal terkoreksi. Alih-alih menunjukkan gejala membaik, kondisi perekonomian global malah cenderung memburuk. Akibatnya tahun depan diperkirakan turun”.
          Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai saat ini Indonesia memiliki dua masalah ekonomi yang berasal dari dalam negeri. Masalah pertama adalah anggaran subsidi bahan bakar minyak dan listrik yang jumlahnya sangat besar dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Masalah kedua adalah besarnya anggaran subsidi bahan bakar dan listrik yang berpotensi meningkatkan defisit anggaran negara karena penerimaan negara lebih kecil daripada belanja negara. Defisit anggaran ini harus ditutup dan salah satu caranya dengan mencari pinjaman atau utang baru (Tempo Co di : http://www.tempo.co/read/news/2012/05/30/092407026/SBY-Indonesia-Punya-Dua-Masalah-Ekonomi ).

Identifikasi masalah perekonomian Indonesia menurut pendapat saya berdasarkan deskripsi diatas, wawasan dan pengalaman dalam menyaksikan berita di media audio visual dan media cetak serta melalui pengalaman pembelajaran di instansi pendidikan menyipulakan bahwa “ Dalam Jangka 10 Tahun Kedepan Perekonomia Indonesia Mengalami Pertumbuhan tetapi dengan kualitas yang rendah, dari sudut pandang Permasalahan Di dalam Negeri dan Kondisi Perekonomian Dunia yang dipengaruhi dari beberapa faktor”. Adapun factor-faktor baik global dan Indonesia menurut pemahaman saya sebagai berikut:

Trend perekonomian dunia akan menurun dalam jangka 10 tahun kedepan akibat beberapa hal yaitu:

a. Krisis negara-negara Eropa. Krisis negara-negara eropa sampai saat ini masih belum terselesaikan dan memberikan efek domino ke negara-negara lain seperti Indonesia.
b. Perang saudara, Perang Perebutan Wilayah, dan Konflik Vertikal di belahan jazirah Arab dan Afrika. Perang saudara yang terjadi di Suriah, Mesir, Turki, Irak, Palestiana, dan lain sebagainya pasti akan berpengaruh akan kondisi perekonomian dan politik global. Sebagian dari jazirah arab merupakan penghasil minyak terbesar dan negara tujuan ekspor dari negara-negara lain.
c. Perang ideologis antara China dan sekutunya dengan Amerika Serikat dan sekutunya (Sosialis dan Liberalis). Kisruh perang perekonomian dan ideology RRC sebagai symbol kekuatan Sosialis dan Amerika Serikat sebagai Simbol kekuatan Liberalis berpengaruh besar akan kondisi perkeonomian Dunia. RRC sebagai Importir terbesar untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia akan selalu berusaha menguasai pasar di negara-negara tersebut. Sedangkan amerika serikat juga tidak ingin kalah dengan RRC dalam hal perekonomian negara-negara berkembang dengan menginvestorkan sebagian dananya serta menjalin Bilateral dan memberikan bantuan-bantuan baik lunak maupun pinjaman cepat. Korea Utara dan Korea Selatan sebagai negara yang di identikkan sebagai kekuatan Sosialis dan Liberal menjadi boneka dari dua negara di atas. Trend menunjukkan bahwa perang dunia ke-3 sudah dimulai, diawali dengan perang produk di pasar global. 
d. Perang perebutan wilayah antar negara (Wilayah Perbatasan). Kasus-kasus seperti perang Korean utara dan Korea Selatan masih berlangsung hingga kini, Perang perebutan wilayah antara Palestina dan Israel juga masih berlangsung, Perang perebutan wilayah pulau Shinkaku oleh Jepang dan RRC ditandai dengan perang didalam dunia perekonomian dan unjuk kekuatan militer masing-masing negara. Indonesia juga masih rentan konflik perbatasan dengan negara Tetangga.
e. Power control dari negara-negara besar terhadap negara-negara berkembang.
f. Persaingan produk yang tidak sempurna di pasar Global (Kapitalis sebagai pemenang)


Permasalahan perekonomian Indonesia saat ini menurut pandangan saya, dalam jangka 10 tahun akan datang permasalahan perekonomian masih belum terselesaikan dengan baik. Adapun permasalahan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Iklim Politik yang belum sehat

Banyak partai politik membuat suasana semakin kisruh. Dimana perwakilan partai yang menjadi wakil rakyat lebih mementingkan kepentingan golongan dan kepentingan pribadi. Perang urat saraf antar partai dan golongan serta Non Government membuat orang-orang di pemerintahan focus untuk mempertahankan jabatan, kepentingan, pembelaan diri, mencari kesalahan lawan politik sehingga lupa akan Tujuan Pemerintah itu sendiri yang telah terpatok di dalam UUD 1945. Kesejahteran dan kemakmuran bagi seluruh rakyak Indonesia menjadi terabaikan karena politik perekonomian dan aspek-aspek di dalamnya digunakan untuk memuaskan nafsu segelitir orang. Adanya praktek-praktek tersebut membuat stabiltas perekonomian menjadi terancam bobrok. Menurut hemat saya sebagai seorang mahasiswa dan rakyat Indonesia, perekonomian semakin kokoh jika konflik politik dapat diredam dengan mengedepankan demokrasi yang seutuhnya dan mengembalikan kesaktian Pancasila sebagai Ideologi yang benar-benar dijadikan pedoman dalam kehidupan bernegara

2. Budaya KKN masih mengakar di masyarakat Indonesia

Terungkapnya kasus-kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) oleh Komite Pemberantsan Korupsi (KPK) sekarang ini merupakan gunung es yang baru nampak puncaknya. Skema penyelesaian KKN seperti labirin-labirin yang susah untuk mencari ujung dan pangkalnya. Dari pemerintah dan aparatur negara serta penegak hukum semakin banyak yang terlibat dan tersangkut kasus KKN. Praktek korupsi membuat banyak kerugian terutama dan yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakya tdiberangus untuk kepentingan bejat. Praktek Kolusi dan Nepotisme menyebabkan pos-pos penting untuk pembangunan di isi oleh orang-orang yang salah dan mengabaikan orang-orang yang tepat. Dana perbaikan perekonomian menjadi sasaran empuk oleh oknum-oknum koruptor disegala lapisan pemerintah seperti kasus dana BMUN yang diusung oleh Dahlan Iskan dan Kasus tingkat Tinggi yang di usung oleh Dipo Alam (Sekretaris Kabinet). Jika kasus-kasus KKN masih tidak terselesaikan yang telah mengakar maka bisa di pastikan 10 tahun akan datang perekonomian akan mengalami trend menurun dan mungkin akan mengakibatkan berbagai krisis seperti krisis moral, krisis kepercayaan dan tentunya krisis ekonomi moneter serta mengancam kestabilan nasional di segala bidang (ipoleksosbudhankam).

3. Tingkat Pengangguran Semakin meningkat

Jumlah angkatan kerja Indonesia saat ini semakin banyak dilihat dari banyak lulusan perguruan tinggi tetapi tidak di barengi dengan lapangan kerja yang memadai sehingga pengangguran meningkat yang akhirnya memicu tindak kriminalitas semakin banyak pula. Tindakan criminal pasti mengancam stabilitas nasional. Praktek KKN juga ikut andil dalam menciptakan pengangguran yang diakibat oleh pengelolaan SDM Indonesia yang carut marut penuh dengan kejanggalan seperti adanya praktek penerimaan pegawai berdasarkan hubungan darah dan besarnya uang suap serta dijadikan sebagai rahasia umum yang tak tau kapan disentuh oleh dewi keadilan.

4. Rentetan Aksi masyarakat akan ketidakpuasan kinerja pemerintah

Ketidakpuasan akan kinerja pemerintah oleh masyarakat akan memicu gelombang aksi dari berbagai elemen atau unsure masyarakat dengan mengusung isu-isu atau permasalahan yang beranekaragam seperti gelombang aksi buruh yang marak terjadi menuntuk naiknya UMR dan penghapusan sistem outsourcing, Aksi menuntut penyelesaian kasus KKN di berbagai didaerah, Aksi BBM, Aksi tentang sistem pendidikan, Aksi menuntut hak tanah, dan aksi-akasi lainya. Peristiwa tersebut berpengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi. Melihat situasi sekarang kemungkinan besar jika permasalahan belum dibenahi maka akan membuat perekonomian terus menurun.

5. Konflik Horizontal dan Vertikal

Tipikal masyarakat Indonesia yang mudah terpancing isu negative yang disebakan oleh tingkat pengetahuan yang rendah yang diukur melalui IPM menyebabkan rentan terjadinya Konflik baik secara horizontal maupun vertical. Contohnya kasus yang baru terjadi di Lampung Selatan dan Lampung Tengah akibat salah persepsi dan miss communication , Konflik Antara pedagang kaki lima dangan pamong praja, konflik SARA yang terjadi di ambon beberapa tahun lalu dan Tragedi SARA di Sambas dan Sampit, Konflik antara masyarakat adat dan pengusaha sawit dan lain sebagainya.

6. Ancaman Dari Negara Tetangga

Isu perbatasan, pengambilan budaya dan karya antara Indonesia dengan negara tetangga menjadi topic yang hangat seperti isu perbatasan sempadan dan Ligitan, Reog Ponorogo, Perang antar Bloger Indonesia dan Bloger negara tetangga, yang terbaru isu tentang pesawat pengintai tanpa awak milik negara lain yang jatuh di lokasi perairan Indonesia dan lain sebagainya.

7. Teror dari kelompok yang tidak jelas

Maraknya aksi terror bom dari kelompok separatis dan kelompok teroris menjadi salah satu pengahambat besar kemajuan pembangunan seperti tertangkap dan terbunuhnya gembong teroris, peristiwa BOM Bali, dan lain-lain.

8. Bencana Alam yang Rawan Terjadi

Indonesia masih tergolong rawan bencana dilihat dari struktur geologis dan kesadaran masyarakat dan Stake Holder akan lingkungan. Dihalalkan praktek illegal logging dan pembabatan hutan bertopeng investasi demi pembangunan menjadi penyebab utam kerusakan lingkungan karena tidak di dukung dengan program penjagaan lingkungan dengan bijaksana.

9. Investasi semakin menurun

Stabilitas nasional yang belum stabil akan membuat para inverstor berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di Indonesia sehingga membuat perekonomian stagnan atau mandeg bahkan menurun. Keamanan yang disebabkan 8 item diatas menjadi penghambat terbesar Investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

10. Infrastruktur dan Sumber Daya belum memadai

Pembangunan infrastruktur yang berjalan tidak baik karena adanya paraktek KKN menjadi penghambat terbesar dalam pembangunan Indonesia. Masih banyaknya fasilitas utama yang belum sesuai harapan seperti jalan dengan kualitas rendah dan masih banyak lagi akses transportasi yang belum dibangun, Sumber daya energi terutama listrik masih belum memadai memadai untuk indutrisasi di negara ini bahkan masih banyak lagi kasus serupa pada infrastruktur yang lain.

11. Penerapan Sistem Pendidikan yang belum Efektif

Berubahnya kebijakan pendidikan dengan frekuensi yang terlalu cepat dan terkesan memaksakan menjadi dunia pendidikan terombang-ambing. Ambisi pemerintah untuk mengejar ketinggalan membuat pemerintah lupa esensi dari pendidikan yang kini mengarah untuk menciptakan SDM sebagai buruh kapitalis. Dengan konsep Seperti BLU yang dahulunya BHP mengisyaratkan pemerintah ingin lepas tangan terhadap pembiayaan pendidikan. Niat baik pemerintah dalam pendidikan selalu berakibat carut marutnya pendidikan dalam artian bahwa ada sesuatu rangkaian yang hilang dalam penerapannya maka untuk itu harus secara bersama-sama mencari akar permasalahan pendidikan di Indonesia ini yang samapai kini masih diperdebatkan. Pendidikan merupakan foundamental yang utama dalam segala aspek pembangunan (IPOLEKSUSBUDHANKAM).


4. Bila mengaitkan tahap-tahap pembangunan menurut pemikiran Rostow, pembangunan Indonesia saat ini berada pada posisi yang mana menurut saudara? Jelaskan!

Rostow membagi proses pembangunan ke dalam lima tahapan yaitu:
1). Tahap masyarakat tradisional (the traditional society), dengan karakteristiknya:
  • Pertanian padat tenaga kerja;
  • Belum mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi (era Newton);
  • Ekonomi mata pencaharian;
  • Hasil-hasil tidak disimpan atau diperdagangkan; dan
  • Adanya sistem barter.
2). Tahap pembentukan prasyarat tinggal landas (the preconditions for takeoff),
yang ditandai dengan:
  • Pendirian industri-industri pertambangan;
  • Peningkatan penggunaan modal dalam pertanian;
  • Perlunya pendanaan asing;
  • Tabungan dan investasi meningkat;
  • Terdapat lembaga dan organisasi tingkat nasional;
  • Adanya elit-elit baru;
  • Perubahan seringkali dipicu oleh gangguan dari luar.
3). Tahap tinggal landas (the take-off), yaitu ditandai dengan:
  • Industrialisasi meningkat;
  • Tabungan dan investasi semakin meningkat;
  • Peningkatan pertumbuhan regional;
  • Tenaga kerja di sektor pertanian menurun;
  • Stimulus ekonomi berupa revolusi politik, Inovasi teknologi, Perubahan ekonomi internasional,
  • Laju investasi dan tabungan meningkat 5 – 10 persen dari Pendapatan nasional, 
  • Sektor usaha pengolahan (manufaktur),
  • Pengaturan kelembagaan (misalnya sistem perbankan).
4. Tahap pergerakan menuju kematangan ekonomi (the drive to maturity), ciri-cirinya:
  • Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan;
  • Diversifikasi industri;
  • Penggunaan teknologi secara meluas;
  • Pembangunan di sektor-sektor baru;
  • Investasi dan tabungan meningkat 10 – 20 persen dari pendapatan nasional.
5. Tahap era konsumsi-massal tingkat tinggi (the age of high mass-consumption) dengan:
  • Proporsi ketenagakerjaan yang tinggi di bidang jasa;
  • Meluasnya konsumsi atas barang-barang yang tahan lama dan jasa;
  • Peningkatan atas belanja jasa-jasa kemakmuran
Melihat pertumbuhan Indonesia saat ini, Indonesia berada pada tahap tinggal landas di lihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini mencapai 6,4 persen yang didorong oleh kinerja sektor domestik dan investasi yang makin meningkat, pertumbuhan ekonomi diprediksi akan stabil pada angka 6,7 persen. seperti yang diungkapkan Kepala Ekonom HSBC untuk wilayah Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan India, Leif Eskesen, dalam pemaparan di Jakarta, Senin (http://www.pajak.go.id/content/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2012-diperkirakan-stabil ). Ditandai dengan Kebijakan moneter pada tahun 2012 oleh Bank Indonesia yaitu mengoptimalkan peran bauran kebijakan moneter untuk menjaga inflasi tetap berada di dalam kisaran sasarannya serta mendorong pertumbuhan ekonomi dalam rangka memitigasi risiko perlambatan ekonomi global. Sementara di bidang perbankan, Bank Indonesia akan meningkatkan efisiensi perbankan untuk mengoptimalkan kontribusinya dalam perekonomian dengan tetap memperkuat ketahanan perbankan. Di samping itu, Bank Indonesia terus berupaya memperluas akses perbankan pada masyarakat (financial inclusion). Di bidang sistem pembayaran, Bank Indonesia terus meningkatkan efisiensi, keandalan, dan keamanan serta penerapan aspek perlindungan konsumen, baik dalam sistem pembayaran nasional maupun hubungan sistem pembayaran dengan luar negeri. Dengan langkah-langkah ini, pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diyakini dapat kembali berada di tengah kisaran prakiraan. Dalam jangka menengah, dengan perekonomian dunia yang diperkirakan akan membaik dan kebijakan struktural yang terus dilakukan khususnya di bidang investasi dan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi Indonesia mempunyai prospek untuk tumbuh lebih tinggi dan berkesinambungan dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga. Perekonomian nasional diprakirakan akan tumbuh mencapai 6,6%-7,4% dan inflasi yang semakin menurun dan menuju 4,0% ± 1% pada tahun 2016 (www.bi.go.id).



Posting Komentar
close