Aliran Filsafat Pendidikan Menurut Edward J. Power


Semakin berkembangnya zaman, membuat para personel pendidikan membutuhkan beberapa metode untuk mengembangkan peserta didiknya dan itu membutuhkan aliran filsafat sebagai literensi untuk bertindak. Permasalahan yang terjadi dalam masa ini mengenai pendidikan juga khususnya berkenaan dengan cara guru untuk menghadapi peserta didiknya semakin banyak dan beraneka ragam, baik dari aspek kognitif dan behaviornya. Guru selalu mengalami masalah dengan hal tersebut 

Beberapa Aliran Filsafat dalam Pendidikan Menurut Edward J. Power

A.       IDEALISME
Idealism berpandangan bahwa pengetahuan sebenarnya sudah berada dalam jiwa (mind) kita, tetapi membutuhkan usaha di bawah pada tingkat kesadaran kita melalui suatu proses yang disebut introspeksi. Jadi, mengetahui adalah berfikir kembali tentang ide-ide terpendam yang ada dalam jiwa kita.
Tujuan pendidikan formal ataupun nonformal pertama-tama adalah membentuk karakter manusia barulah setelah itu pengembangan kecerdasan fan pembentukan peserta didik sebagai makhluk social.
Peserta didik menurut aliran ini bebas mengembangkan kepribadian dan kemampuan serta bakatnya. Dengan bantuan alam sekitar anak melaksanakan proses pengembangan manusia. Peran guru terutama berusaha untuk membentuk lingkungan pendidikan bagi peserta didik yang kondusif untuk belajar. Kurikulum yang dikembangkan dimaksudkan untuk membentuk kemampuan berfikir rasional disamping itu pendiddikan praktis perlu diselenggarakan untuk mencukupi kebutuhan hidup peserta didik. Menggunakan metode dialektik, dan metode-metode lain yang efektif dan menstimulasi belajar.
B.       REALISME
Tokoh realism adalah Aristoteles (384-332 SM). Pada dasarnya aliran ini berpendapat bahwa hakikat realitas adalah fisik dan ruh. Jadi, realitas bersifat dialistis. Ada 3 golongan dalam realisme, yaitu:
  1. Realisme humanistis : menghendaki pemberian pengetahuan yang luas ; ketajaman, pengalaman, berfikir, dan melatih.
  2. Realisme social: menyiapkan individu untuk hidup bermasyarakat
  3. Realism yang bersifat ilmiah: realism ilmu pengetahuan menekankan pada pendidikan tentang alam. Francis Bacon (1561-1626), seorang tokoh realisme ilmu, berpandangan bahwa alam harus dikuasai oleh manusia. Pandangannya tentang manusia ditentukan oleh kemampuan menggunakan pikirannya.

Pendidikan yang didasari oleh realism bertujuan agar peserta didik menjadi manusia bijaksana secara intelektual yang dapat memiliki hubungan serasi dengan lingkungan fisik maupun social. Tujuan pendidikan membentuk individu yang dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki tanggung jawab kepada masyarakat. Kedudukan peserta didik ialah sebagai penerima intruksi dan harus menguasai pengetahuan. Disiplin mental dan moral diperlukan dalam setiap jenjang pendidikan. 
Peran guru adalah menguasai materi, memiliki keterampilan dalam pedagogi untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang dikembangkan bersifa komprehensif, yaitu memuat semua pengetahuan yang penting. Kurikulum realism menghasilkan pengetahuan yang luas dan praktis.Metode yang dilaksanakan didasari oleh keyakinan bahwa semua pembelajaran bergantung pada pengalaman. Oleh karena itu, pengalaman langsung dan berfariasi perlu dilakukan oleh peserta didik. Metode penyampaian harus logis dan didukung oleh pengetahuan psikologi.
C.       PARAGMATISME
Aliran ini dapat dipandang sebagai kreasi filsafat yang berasal dari Amerika. Paragmatisme dipengaruhi oleh pandangan empirisme, utilitarianisme, dan positivism. Para ahli yang mendukung timbulnya paragmatisme di Amerika, misalnya Charles Sanders Piere (1839-1914), yang mengembangkan kriteria paragmatisme, tidak menemukan kebenaran tetapi menemukan arti atau kegunaan. William James (1842-1910) menyatakan bahwa pengetahuan yang bermanfaat adalah yang didasari oleh eksperimen (instumentalisme).  John Deway (1589-1952) yang mengarahkan paragmatisme sebagai filsafat sistematik Amerika dengan menyebarluaskan filsafat pada masyarakat Amerika yang terdidik. Menurutnya, misi filsafat adalah kritis, konstruktif, dan rekontruktif.
Adapun implikasi paragmatisme dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
  • Tujuan pendidikannya menggunakan pengalaman alat menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi ataupun kehidupan masyarakat.
  • Kurikulum dirancang dengan menggunakan pengalaman yang telah diuji tetapi dapat diubah apabila diperlukan. Adapun minat dan kebutuhan peserta didik diperhitungkan dalam penyusunan kurikulum. Metode yang digunakan adalah learning by doing.
  • Fungsi guru adalah mengarahkan pengalaman belajar peserta didik tanpa terlalu mencampuri minat dan kebutuhannya.

D.       HUMANISME
Karakteristik pendidikan humanism di pengaruhi oleh pandangan Abraham Maslaw, Carl Rogers, Jean Piaget , dan Jerome Bruner. Pendidikan humanis menekankan pada kebutuhan anak atau child centered kehidupan sekolah terus menerus diperbaiki, disesuaikan dengan motif/minat peserta didik.
Konsepsi tujuan pendidikannya menekankan kepada kebebesan untuk belajar. Tujuan pendidikan adalah aktualisasi diri,Perkembangan efektif, dan pembentukan moral.Pada dasarnya, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk kehidupan manusia yang efektif. Kurikulum ditekankan pada minat peserta didik dan bukan pada materi subjek yang dirancang secara terurai.Bidang studi yang dipelajari bersifat komprehensif.
Metode yang digunakan adalah poenemuan dengan menekankan pada kreativitas untuk mengembangkan keingintahuan alami peserta didik. Diharapkan, dengan memperoleh pengalaman dalam kebebesan dilingkungan sekolah yaitu dengan mengatur pendidikan sendiri, peserta didik mempelajari dasar-dasar tanggung jawab pribadi ataupun tanggung jawab sosial. Peran guru, sebagai agen kerja sama yang tanpa menunjukan kekuasaan dalam pendidikan, dapat menciptakan suasana kondusif untuk belajar.
E.   BEHAVIORISME
Selanjutnya, perlu anda pahami bahwa  “behaviorisme” sebenarnya merupakan suatu aliran dalam teori belajar di samping aliran Kognitif. Teori belajar yang mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap pengajaran merupakan salah satu bagian dari psikologi pendidikan yang merupakan penerapan teori-teori psikologi dalam pendidikan.Menurut kelompok aliran behaviorisme,dengan menggunakan indra kita ,akan diperoleh pengetahuan tentang realitas fisik yang aturannya mengikuti hukum-hukum alam.Tak seorangpun ahli behaviorisme yang dengan tekun mempelajari hakikat hubungan antara psikologi,fisiologi,dan alam atau antara orang yang mengetahui dengan hal-hal yang diketahui .Yang dipentingkan adalah adanya perubahan tingkah laku setelah seseorang memperoleh stimulus dari luar .Artinya,perlu anda pahami bahwa pandangan aliran behaviorisme dalam pendidikan adalah sebagai berikut .
  • Tujuan pendidikan nya mengubah atau memodifikasi tingkah laku.Artinya,menyiapkan pribadi-pribadi sesuai dengan kemampuannya untuk memiliki tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.
  • Kurikulum yang dikembangkan untuk mencapai tujuan berdasarkan tingkah laku yang telah ditetapkan.yang dikenal di Indonesia adalah istilah tujuan instruksional umum dan tujuan instruyksional khusus.
  • Metode yang digunakan antara lain dengan menggunakan penguatan dalam belajar,pengajaran program,dan kompetensi.
  • Peserta didik tidak memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang akan dipelajari.Tingkah laku yang diharapkan ditentukan oleh penyelenggraan pendidikan.Dalam hal; ini pendidikan di desain untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupannya nanti dan mereka harus belajar sesuai dengan apa yan g digariskan oleh penyelenggara pendidikan ,Guru memiliki otoritas membuat desain dan mengontrol proses pendidikan. Ia bertanggung jawab pada kualitas dan kriteria hasil belajar yang diharapkan.

F.  KONSTRUKTIFISME
Perananan konstrukstifisme dalam pendidikan dewasa ini ,oleh sebagian pendidik diamnggap sesuatru yang baru.Apabila kita menggunakan istilah yang dikemukakkan oleh jean piaget ,pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individi mengkonstruksi arti dari suatu tek,pengalaman fisik,dialog,dan lain-lainnya melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang.Tujuan pendidikan konstruktifisme adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan tiap persoalan yang dihadapi. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapan dikonstruksi oleh peserta didik.Latihan memecahkan masalah sering kali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari hari. Peserta didik diharapjkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya .Guru berfungsi sebagai mediator ,fasilitator,dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
Itulah beberapa contoh aliran filsafat yanbg diterapkan dalam pendidikan dan juga dapat dinyatakan sebagai aliran dalam filsafat pendidikan.dengan memahami berbagai pandangan dalam pendidikan, seorang guru diharapkan dapat merancang atau memperbaiki praktik pendidikannya dengan lebih baik.
Masing-masing aliran filsafat dalam pendidikan yang dikemukakan oleh Edward  J.Power memiliki pemahaman yang berbeda-beda baik dari segi tujuan pendidikannya, peran guru, kurikulum, ataupun dari segi  metode yang digunakan, dll.
Namun masing-masing dari aliran filsafat dalam pendidikan ini memiliki tokoh-tokoh yang mendukung dan atau menuangkan pemikirannya, seperti dalam aliran filsafat paragmatisme di mana pada aliran filsafat ini Charles Sanders Piere mendukung dengan adanya paragmatisme di Amerika. Adapula Abraham Maslaw, Carl Rogers, Jean Piaget , dan Jerome Bruner yang menuangkan pemikirannya pada aliran filsafat humanisme.
Namun keberadaan nama-nama para ahli tidak membuat aliran-aliran filsafat dalam pendidikan ini menjadi tampak ada yang lebih atau yang kurang, justru perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam masing-masing aliran filsafat dalam pendidikan ini dapat menjadi pilihan untuk penerapan dengan penyesuaian keadaan yang sedang berlangsung.
Posting Komentar
close