Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK YANG BERSIFAT NONNORMATIF

Senin, 18 Agustus 2014 | 14:13 WIB Last Updated 2014-08-18T07:13:35Z

Kelainan yang muncul pada seorang anak berkaitan erat dengan faktor – faktor yang mempengaruhi  perkembangan mereka. Faktor – faktor tersebut di antaranya adalah :
1.   Cetak Biru Biologis ( Biological Birthright )
Dalam perjalanannya dapat terjadi kelainan genetis yang lazim dikenal sebagai abnormalitas gen. Abnormalitas ini dapat terjadi ketika kromoson tidak memiliki pasangan ( tunggal ) atau sebagaian kromoson hilang,mengalami duplikasi ( kelipatan ) atau salah ( keluar ) dari tempatnya. Abnormalitas yang paling mudah dikenali adalah sindroma down atau down”s syndrom, yang disebabkan oleh adanya kelebihan kromoson di kromosom 21.
2.   Genetik Dan Lingkungan
Dari semua area dimana pengaruh genetik dan lingkungan saling berinteraksi mempengaruhi seorang anak, maka ada dua aspek yang mengundang perbedaan pendapat paling kontroversial yaitu berkaitan dengan perbedaan jender yaitu perbedaan antara laki-laki dengan perempuan; dan yang kedua adalah berkaitan dengan peranan, sifat-sifat serta asal-usul intelegensi.
a.       Perbedaan Gender
Sering kita dengar bahwa laki-laki lebih rapuh dibandingkan perempuan, hal ini berlanjut saat mereka dapat bertahan hidup setelah dilahirkan. Laki-laki lebih terbuka dibandingkan perempuan terhadap kemungkinan bermacam-macam kelainan yang sangat luas berfariasi termasuk cerebral palsy, infeksi, keterbelakangan mental dan beberapa kesulitan belajar. Jhon Money (dalam Lamsdown dan Walker, 1996) mengatakan bahwa hormon mengarahkan anak atau individu untuk berperilaku sesuai dengan jenis kelamin, namun pengalaman anak akan mempengaruhi apakah pengaruh hormonal tersebut akan hilang atau diperkuat.
b.      Intelegensi
Intelegensi adalah kualitas mental yang didasari keberhasilan seseorang di sekolah. Beberapa psikolog mengemukakan bahwa sebenarnya ada dua faktor utama yaitu pertama adalah faktor umum  (general factors), yang mendasari kemampuan intelektual, dan kedua adalah serangkaian kemampuan khusus (spesific abilities). Keberadaan kemampuan umum ini menjelaskan mengapa ada kecenderungan bila seseorang memiliki kemampuan yang baik dalam satu bidang, juga dia baik pada beberapa bidang lain. Dilain pihak gagasan mengenai kemapuan khusus dapat menerangkan mengapa, contohnya, mengapa ada orang-orang yang amat mahir dalam mengadakan negosiasi, namun gagal dalam matematika.
c.    Kontrol Sosial
Konteks dimana seorang anak atau individu tinggal memegang peranan amat penting karena perubahan-perubahan yang terjadi memberikan pengaruh pada setiap tahap usia aspek dan perkembangan. Bagaimana konteks sosial tersebut berpengaruh pada anak akan dibahas di bawah ini:
1.      Keluarga
Keluarga adalah konteks pertama yang memperkenalkan anak kepada dunia secara fisik melalui kegiatan bermain dan menjelajah objek-objek yang berada di sekitarnya. Kelekatan dengan orangtua dan saudara kandung biasanya berjalan sepanjang kehidupan dan menjadi model saat membina hubungan dalam dunia yng lebih luas, seperti tetangga, sekolah, dan masyarakat di sekitar tempat kita tinggal.
Dalam keluarga, anak belajar menggunakan bahasa, keterampilan-keterampilan tertentu, nilai-nilai sosial dan moral yang berkembang dalam kebudayaan dimana mereka tinggal.
Parke dan Burke (1998:dalam Berk, 2005), kehangatan, kebahagiaan atau kepuasan dalam ikatan keluarga meramalkan kesejahteraan psikologis sepanjang tentang perkembangan individu. Sebaliknya, isolasi atau keterasingan dari ikatan keluarga seringkali dihubungkan dengan adanya masalah dalam perkembangan seseorang.
Penelitian-penelitian mutakhir memandang keluarga sebagai suatu jejaring dari hubungan yang saling memiliki ketergantungan satu sama lain (interdependent). Bronfenbrenner menyebutnya sebagai suatu sistem yang memiliki pengaruh bidirectional (bidirectional influences), artinya perilaku atau respon dari setiap anggota keluarga dipengaruhi dan saling mempengaruhi anggota keluarga yang lainnya. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung.
a.       Pengaruh yang bersifat langsung (direct influences)
Perilaku salah seorang anggota keluarga memperkuat bentuk reaksi yang terjalin dengan anggota keluarga lainnya, dan pada gilirannya bentuk reaksi tersebut dapat meningkatkan atau menurunkan kesejahteraan anak. Suatu perilaku terbentuk sebagai reaksi yang diterima dari lingkungan, sementara bagaimana lingkungan bereaksi juga dipengaruhi oleh perilaku yang ditampilkan.
b.      Pengaruh yang bersifat tidak langsung
Dampak dari hubungan dalam keluarga terhadap perkembangan anak menjadi lebih rumit ketika kita menyadari bahwa hubungan antara dua anggota keluarga dipengaruhi oleh kehadiran orang lain dalam lingkungan mereka, atau Bronfenbrenner (dalam Berk, 2005) menyebutnya sebagai pihak ketiga (Thirt parties).
Pihak ketiga dapat menjadi pihak yang memberi dukungan dalam perkembangan. Kehadiran anak diantara kehidupan orangtua juga mempengaruhi hubungan orangtua mereka.
Kekuatan saling pengaruh-mempengaruhi dalam keluarga bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan, begitu salah satu anggota keluarga beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi pada anggota lain.misalnya ketika seorang anak sudah berhasil menguasai keterampilan yang baru, maka orangtua menyesuaikan cara mereka menghadapi anak sesuai dengan kemampuan baru yang dimiliki oleh anak. Orangtua merubah caranya menghadapi anak sejalan dengan perkembangan anak, sebaliknya perubahan yang terjadi pada orangtua juga mempengaruhi anak dalam berperilaku.
Perubahan-perubhaan dalam lingkungan yang muncul bersamaan dengan perkembangan anak juga mempengaruhi cara orangtua mengasuh anaknya.
2.      Status Sosial, Ekonomi dan Fungsi Keluarga.
Dalam banyak budaya, maka status sosial ekonomi mempengaruhi kapan seseorang anak memutuskan akan menjadi orangtua dan besarnya anggota keluarga. Penelitian-penelitian di Amerika memperlihatkan bahwa orang-orang yang pekerjaannya memerlukan keterampilan tidak terlalu khusus dan khusus misalnya penjaga sesuatu, dll. Cenderung menikah dan memiliki anak lebih cepat (muda) dengan jarak kelahiran anak lebih dekat dan jumlah anak lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan kantoran dan profesional. Kedua kelompok ini juga memiliki nilai-nilai dan harapan yang berbeda dalam mengasuh anak-anak mereka.
Kondisi kehidupan dalam keluarga dapat membantu kita untuk memahami mengapa keadaan seperti ini dapat muncul. Orangtua dengan status sosial ekonomi lebih rendah seringkali merasa tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki pengaruh saat menjalin hubungan diluar kehidupan rumah atau dalam masyarakat. Namun sebaliknya dengn orangtua yang memiliki sosial ekonomiu lebih tinggi, mereka nampaknya lebih dapat mengontrol kehidupan mereka.
3.      Kemiskinan.
Kemiskinan membuat kesehatan fisik memburuk, kemampuan kognitif atau kecerdasan berkurang atau tidak berkembang optimal, kemampuan akademis menurun, putus sekolah, gangguan jiwa dan meningkatkan perilaku antisosial atau kenakalan. (Poulton dkk., 2000; Secombe, 2002; dalam Berk, 2005). Selain anak maka stres yang muncul secara terus menerus akibat kemiskinan ini membuat orangtua menjadi depresi, mudah marah, mudah tersinggung, dan pada akhirnya akan mengganggu perkembangan anak.
4.      Perbedaan budaya.
Masyarakat tempat seorang anak dilahirkan masih memberikan pengaruh yang paling besar. Setiap negara, setiap suku daya dalam suatu negara, memiliki cara-caranya tersendiri dalam memperlakukan seorang bayi dan anak , mereka juga memiliki harapan yang khas. Di satu sisi beberapa ahli menekankan pada adanya faktor genetik yang menyebabkan munculnya perbedaan. Sementara di sisi yang lain lebih menekankan kepada adanya perbedaan pola pengasuhan, mereka melihat bila anak-anak di Afrika ini mendapat perlakuan yang sama seperti anak-anak di Barat, maka mereka akan belajar berjalan dengan kecepatan yang sama.
Bila kita cermati, maka di seluruh dunia ini amat banyak perbedaan-perbedaan yang dapat kita amati, mengenai bagaimana cara-cara setiap budaya memperlakukan bayi-bayi yang baru lahir. Hampir semua bangsa, melalui sistem pendidikan di sekolah, secara didasari maupun tidak cenderung menekan anak-anak, agar mereka mematuhi nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakatnya. Bila mereka tidak patuh pada nilai-nilai tersebut, maka hukuman atau “label” tertentu akan diberikan pada anak tersebut.
5.      Ketangguhan (resiliency).
Ketangguhan (resiliency) adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu dan dengan kemampuan tersebut, individu mampu bertahan dan berkembang secara sehat serta menjalani kehidupan secara positif dalam situasi yang kurang menguntungkan atau penuh dengan tekanan. Hal lain yang perlu dipahami bahwa ketangguhan itu adalah suatu kemapuan yang dimiliki oleh anak karena adanya proses belajar. Saat seorang anak merasa tidak pasti maka mereka akan melihat kepada dean meminta dukungan kepada orangtuanya dengan tanda-tanda tertentu seperti adanya bahasa tubuh tertentu yang diberikan sebagai dukungan, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan tepat. Dengan demikian, interprestasi anak terhadap situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar dipelajari dari bagaiman orangtua berinteraksi terhadap kebutuhan mereka.
Penelitian yang panjang dilakukan oleh banyak peneliti untuk melihat faktor-faktor apa yang melindungi seorang anak dari kerusakan yang ditimbulkan sebagai akibat dari lingkungan yang penuh dengan tekanan. Ditemukan adanya empat faktor utama, yaitu:
a.       Karakteristik pribadi.
Karakteristik bawaan seorang anak dapat mengurangi dampak negatif akibat paparan yang terus menerus dari situasi yang penuh dengan tekanan atau mengarahkan pada keadaan yang lebih buruk. Intelegensi yang tinggi dan bakat-bakat sosial yang bermanfaat merupakan faktor protektif.
b.      Pengasuhan yang penuh kehangatan.
Hubungan yang dekat dengan paling tidak salah satu orangtua yang penuh dengan kehangatan, meletakkan harapan yang tinggi dan tepat pada anak, memantau kegiatan anak dan menciptakan  lingkungan rumah yang dapat menumbuhkan ketangguhan pada anak. Faktor ini tidak dapat lepas dari karakteristik yang dimiliki oleh anak.
c.       Dukungan sosial selain keluarga inti.
Contohnya :  Aam memiliki paman  yang senang memperbaiki mobil serta memiliki bengkel kecil, meskipun sederhana namun keluarga paman beserta anaknya yang sebaya dengan Aam dengan tangan terbuka menerima kedatangan Aam setiap sabtu dan minggu ke bengkel mereka yang sederhana yang untuk turut membantu-bantu. Secara tidak didasari, paman dan keluarganya  menjadi model bagi Aam untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan.
d.      Masyarakat yang perduli.
Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, kelompok keagamaan dan organisasi lainnya mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial yang amat penting. Penelitian dalam bidang ketangguhan memperlihatkan hubungan yang komplek antara faktor bawaan dengan lingkungan. Apapun alasannya, maka satu hal yang perlu mendapatkan perhatian penuh adalah bahwa untuk mengoptimalkan perkembangan seorang anak, maka faktor resiko harus diperkecil dan faktor protektif diperkuat.
6.      Penanganan.
Orangtua tentu saja akan memerlukan bantuan pada ahli bila ternyata anaknya mengalami kelainan. Ada beberapa jenis yang disarankan, sebagai berikut:
a.    Penanganan Medis.
Penting bagi orangtua mengetahui dengan jelas apa efek samping dari obat yang akan diberikan  pada anak mereka.
b.        Terapi Bermain.
Terapi bermain adalah salah satu bentu psikoterapi yang digunakan bagi anak-anak lebih kecil untuk mengatasi keterbatasan verbal mereka.
c.         Terapi Perilaku.
Adalah mengajarkan anak perilaku baru dengan cara mengubah lingkungan, mengajarkan keterampilan baru atau mengubah proses kognitif dan emosional anak.
d.        Terapi Keluarga.
Dalam terapi ini semua anggota keluarga yang terkait, bukan hanya anak, bertemu bersama-sama dengan terapis dengan tujuan memecahkan masalah mereka.
e.         Fisioterapis.

Bagi anak-anak dengan kelainan yang memerlukan fungsi anggota tubuh meskipun kelainan-kelainan pada anak seringkali muncul bukan karena penyebab tunggal, maka kelainan pada anak harus didefinisikan dalam pemahaman penyimpang dari perilaku normal dan dibandingkan dengan pencapaian yang biasa dicapai oleh anak-anak lain dalam rentang usia yang sama.
×
Artikel Terbaru Update